Posted in My Post

Panggilan Transendental

Sophy119

Lihatlah aku saudaraku

Tubuhku berkeringat deras

Badan ku gemetar hebat

Dan diriku menggigil dengan dasyatnya

Ketika pikiran sesat muncul dalam diriku

Aku kehilangan keberanian untuk berdiri di atas jalan perjuangan ini

Dirikupun dipenuhi dengan kecintaan berlebih akan dunia ini

Dan ini adalah saat yang tak pernah aku ingin rasakan lagi

Ketika ketakutan ku akan sebuah masa depan yang tak pasti menghantui

Ketika hidup yang normal telah di taruhkan di altar perjudian yang masih misteri

Ketika kesia-siaan pun membayangi setiap langkah perjuangan

Ketika kematian dalam keadaan seperti itu menjadi menyuramkan

Ketakutan ketakutan dan ketakutan

Telah mengalir masuk bak darah dalam diri yang kurus ini

Menggantikan setiap tetes darah juang dalam diri

Mengkontruksi sebuah jiwa seorang pengecut lagi cacat

Sungguh malang jiwa yang terbentuk seperti ini saudaraku.

Juga ketika cinta mulai tumbuh

Membuat diri menjadi seorang yang tak bebas

Terikat dalam setiap simpul kecintaan yang mengikat

Terhadap ikatan duniawi yang sungguh ilusif

Cinta inilah yang telah membuat perjuangan ini menjadi klise

Cinta inilah yang membuat diri menjadi takut

Takut kehilangan sesuatu yang sungguh dicintai

Yaitu kehidupan yang normal tanpa anomali, kehidupan dalam batas kewajaran

Bisa kau bayangkan saudaraku

Betapa mudahnya menebak perjalanan hidup seorang yang memiliki kehidupan normal

Kau hanya hidup di atas kehidupan mu sendiri

Hampir semua orang di dunia, melakukan hal yang serupa

Kehidupan macam ini adalah kehidupan yang wajar

Justru karena kewajarannya lah ia tak berarti

Lalu kehidupan itu menjadi tak penting untuk dijadikan sebuah cerita

Dan selanjutnya hilang, bahkan tak berbekas dalam ingatan peradaban

Inilah implikasi dari sebuah kehidupan yang normal, sebuah kehidupan yang wajar

Aku menghindarinya bukan hanya saja karena implikasi ini

Tetapi ada sesuatu yang lebih esensial

Itu adalah panggilan transendental

Sebuah panggilan yang tak ter “erti” kan oleh ku

Satu-satunya yang ku mengerti adalah ini merupakan panggilan ilahiah

Panggilan yang mengilhami sebuah revolusi peradaban

Yang pernah terjadi di berbagai belahan ruang dan waktu

Panggilan itulah yang sedang aku tuju saudaraku

Panggilan yang menyeru untuk meninggalkan kehidupan yang kalian katakan normal itu

Menuju ke kehidupan yang kalian katakan sebagai anomali, menyimpang, tak wajar

Aku menyebutnya kehidupan dalam jalan perjuangan

Aku mengutuk diriku sendiri jika aku berpaling dari panggilan ini

Pikiran sesat ini tidak boleh dibiarkan berkuasa dalam diriku walau sesaat

Cinta ini juga tak boleh membuat aku terikat dalam ikatan yang melumpuhkan

Aku harus kembali ke muara panggilan ilahiah ini

Walau perjalanan ini sangatlah panjang

Walau kegulitaan gelap menjadi realita setia yang menyertai

Walau hanya aku satu-satunya dan kesendirian yang akan menjadi temanku

Diriku yang lemah ini harus menerima ini semuanya

Itu tidaklah sebanding dengan apa yang sedang aku perjuangankan.

Resiko ini sangatlah kecil dibanding dengan kebesaran cita-cita yang menjadi destinasi perjuangan ini

Karena aku menyadari

Bahwa hidupku tak ada artinya jika selain hidupku itu tak berarti

Arief Sofyan

Jakarta, 30 September 2017

Advertisements
Posted in @Sophy119, My Post, Sajak ku

Paradoks Yang Paradoksal

Untuk saudaraku.

Kata orang,

Aku si bisu yang banyak berbicara dengan seorang tuli.

Aku si tuli yang banyak mendengar dari seorang bisu.

Aku si buta yang terlalu banyak melihat realita yang telanjang.

Aku orang bodoh yang terlalu banyak belajar dari orang gila.

Aku yang mereka katakan gila memanglah telah gila.

Aku yang mereka katakan mabuk memanglah telah mabuk.

Aku yang mereka katakan bejat memanglah telah bejat.

Aku memanglah aku yang terlihat juga aku yang tak terlihat oleh mereka.

Biarkan mereka mengaku waras walau mereka telah gila.

Biarkan mereka mengaku sadar walau mereka telah mabuk.

Biarkan mereka mengaku orang yang paling bermoral walau ia adalah orang terbejat.

Biarkanlah mereka dengan segala macam pengakuannya yang tak terakui.

Biar pun begitu,

Aku tetaplah tuan bagi diriku sendiri.

Aku tetaplah kesadaran bagi segala kehendakku.

Aku tetaplah pemilik sejati dari segala angan dan citaku.

Aku tetaplah penguasa untuk segala kuasa di dalam diriku.

Saudaraku,

Begitulah dunia ini menganggap ku sebagaimana anggapan mereka.

Beginilah manusia manusia seperti kita terlihat oleh mereka.

Jangan kau terkejut nanti setelah kau merasakannya sendiri.

Aku disini sebisa mungkin memberimu sebuah pelajaran sebelum kau berada disini.

Dunia tempat ku tinggal sekarang adalah dunia yang paradoksal.

Sangat paradoksal dengan dunia tempat tinggal kita saudaraku.

Dimana kealamian hidup dianggap sebagai anomali hidup untuk mereka.

Dan anomali hidup dianggap sebagai kealamian hidup.

Apa yang mereka teriakkan sebagai kebenaran adalah sebuah kesalahan yang malu malu.

Juga apa yang mereka katakan sebagai kebaikan adalah suatu keburukan yang sangat naif.

Kebenaran dan kebaikan sangatlah sulit di temukan di sini saudaraku.

Bahkan serpihan kecilnya pun belum mereka punyai.

Disini,

Yang berkuasa telah lupa akan segala kewajiban dan tanggungjawabnya nya.

Yang papa pun telah menjadi malas lagi tak acuh dengan hak-hak nya.

Ia yang bersumpah dengan mudahnya melanggar bahkan mendustasinya.

Ia yang diberi amanah telah ingkar bahkan menghianatinya.

Disini juga saudaraku,

Yang bisu terlalu banyak berbicara kata-kata tak bermakna.

Yang tuli dipaksa untuk mendengar suara yang tak bertuan.

Sedang yang buta terlalu diandalkan menjadi saksi-saksi ahli di altar suci pengadilan.

Sedang yang bodoh terlalu banyak yang menjadi pengajar.

Dunia yang kacau ini, mereka sebut sebagai dunia yang modern.

Mereka mengaku telah mencapai evolusi puncak spesies mereka.

Bahkan mereka mengklaim bahwa mereka adalah subjek dari alam semesta.

Dengarlah ironi yang sungguh ironi ini saudaraku.

Mereka seakan sudah tahu masa depan mereka sendiri.

Mereka bisa mengaturnya sebagaimana mereka kehendaki.

Mereka bahkan merenggut singgasana Tuhan di atas sana.

Menelantarkannya sebagai Tuhan papa yang terkucilkan.

Lihatlah saudaraku,

Betapa mereka telah berlaku kurang ajar bahkan kepada Tuhan.

Tuhan yang mereka puja sepanjang waktu, pada saat yang sama mereka ludahi ke kesucian Nya.

Mereka dengan bangga menjadi pembelanya, tanpa sadar mereka jualah yang memusuhi Nya.

Mereka yang khusuk dihadapan Nya, mereka jualah yang tak mengacuhkan Nya dengan sembrono.

Masih banyak yang ingin aku ceritakan tentang dunia ini kepada mu saudaraku.

Kata-kataku tak kan habis hanya untuk menjelaskannya kepadamu.

Tetapi tinta pena ini yang tak mengijinkan aku menulis kan nya untuk mu.

Ku harap aku tak mengecewakanmu.

Aku berjanji akan melanjutkannya di lain waktu.

Salam dari saudara mu

Arief Sofyan

Jakarta, 21 September 2017. Pukul 06:06 WIB.