Posted in Tak Berkategori

Menulis Untuk Keabadian, Berfilsafat Untuk Pembebasan, Mengkritik untuk Kepedulian.

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis bagi saya adalah proses pengabadian, yaitu pengabadian suatu gagasan ataupun pengetahuan yang kita miliki kedalam suatu media, untuk selanjutnya akan menjadi pengetahuan dimasa yang akan datang. Seperti para penulis yang sudah meninggal puluhan tahunan, ratusan tahunan, bahkan ribuan tahunan yang lalu, kita masih bisa mengetahui gagasan-gagasan dan pengetahuan yang mereka miliki.

Setiap peradaban memiliki penulis-penulis yang bagi saya abadi, mereka tidaklah mati, namun mereka hidup untuk selamanya. Jasad yang telah terkubur ditanah bukanlah mereka. Itu hanya seonggok daging yang pernah mereka gunakan didunia ini yang merupakan media untuk membuat diri mereka abadi. Gagasan dan pengetahuan itulah diri mereka, yang ada, yang nyata, dan yang abadi untuk selamanya. Saya sejalan dengan penulis yang juga menyatakan menulis adalah bekerja untuk keabadian seperti quotenya “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”(Pramoedya Ananta Toer).

Saya sepakat dengan argumen beliau, karena dengan tulisan sajalah kita bisa mengenal seseorang yang meskipun kita tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan saya tidak tidak terlalu mengenal siapa Uyut saya (Bapak dari kakek saya) yang baru meninggal mungkin kurang lebih 50 tahun yang lalu. Tapi saya mengenal betul Siapa Socrates, Siapa Plato, Siapa Aristoteles, Siapa Yesus Kristus sang Juru Selamat, Siapa Muhammad bin Abdullah Sang Rasulullah. Saya lebih mengenal mereka yang bagi saya adalah orang lain dan telah meninggal ratusan dan ribuan tahun lalu dari pada mengenal Uyut saya yang baru meninggal 50 tahun yang lalu. Kenapa demikian.?

Karena mereka semua menulis, mereka semua menuliskan gagasan dan pengetahuan yang mereka miliki sehingga saya yang hidup ratusan dan ribuan tahun setelah mereka bisa membacanya dan mengenalinya. Andai saja uyut saya memiliki buku harian yang menceritakan kesehariannya, mungkin saya juga akan mengenalinya layaknya mereka. Itulah mengapa saya pun memutuskan untuk menjadi penulis, karena saya tidak ingin gagasan-gagasan dan pengetahuan yang saya miliki ikut terkubur dengan jasad saya nanti setelah saya mati. Dengan begini saya bisa ikut menjadi abadi seperti mereka dan gagasan dan pengetahuan saya akan bermanfaat dimasa yang akan datang.

Lalu apa itu berfilsafat? Bagi saya berfilsafat adalah berfikir dengan metode filsafat yakni berfikir secara filosofis. Berfikir secara filosofis merangkum berfikir secara radikal, analitis, sistematis, logis, dan komprehensif. Itu adalah ciri berfikir secara filosofis atau berfilsafat. Berfilsafat tidak sama dengan berfikir biasa yang sering kita gunakan dalam memecahkan masalah-masalah yang kita hadapai. Berfilsafat lebih lebih kompleks dari berfikir biasa, berfikir biasa tidak memiliki aturan baku dalam metodenya. Namun berfilsafat punya itu, yaitu seperti telah disebutkan diatas, radikal, analitis, sistematis, logis, dan komprehensif.

Berfilsafat itu murni dihasilkan dari akal budi yang dimiliki manusia, dasar dari berfilsafat adalah keraguan, yang mana keraguan adalah dasar yang sangat kokoh untuk menopang cara berfikir agar kita mendapatkan hasil yang kokoh pula, berfilsafat itu lepas dari dogma yang memenjarakan. Kepercayaan filsafat hanya kepada ketidakpercayaan terhadap segala sesuatu. Dengan begitu terbukalah filsafat untuk segala macam kemungkinan yang akan terjadi, dan itulah unggulnya filsafat yang belum mematok label kebenaran, kebaikan, dan keindahan karena filsafat lebih mengarah ke label yang lebih tinggi dari itu yaitu kebijaksanaan.

Mengapa berfilsafat merupakan suatu pembebasan,? Pembebasan yang bisa dicapai filsafat adalah pembebasan pikiran dari dogma atau ajaran yang mutlak dan tidak boleh dipertanyakan. Filsafat adalah lawan dari dogma yang memenjarakan, dengan kata lain filsafat berusaha membebaskan pikiran dari kengkangan dogma yang memenjarakan itu. Itulah niat baik filsafat, mengajak pikiran untuk keluar dari penjara dogma dan keluar dari zona nyaman yang menyesatkan. Karena filsafat mengajak kita kepada keterbukaan terhadap dunia, bukan menutup diri dari dunia.

Bagaimana dengan mengkritik,? Mengkritik berdasar dari kritik yang merupakan masalah penganalisaan dan pengevaluasian suatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Jadi hematnya mengkritik adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang atas tanggapan terhadap sesuatu. Kritikan bisa saja disampaikan melalui media apapun, yang dimaksudkan kepada objek yang kita tuju. Suatu objek yang kita tuju pastinya telah kita amati secara tidak langsung. Dan itu menandakan suatu kepedulian terhadap apa yanng kita tuju, apakah tujuan kita baik atau buruk hanya kita sendiri yang tahu, dan bergantung bagaimana objek menanggapi suatu tanggapan kita atau kritikan kita terhadapnya.

Kritikan bisa disejajarkan dengan teguran dan nasihat. Karena pada ketiganya memiliki esensi yang sama. Persoalan dalam cara penyampaiannya merupakan masalah eksistensial. Jadi mengkitik adalah tanda kepedulian kita terhadap sesuatu, karena tidak mungkin kita mengkritik jika kita tidak peduli akannya.

Maka pesan saya adalah “jadilah abadi dengan menulis, jadilah bebas dengan berfilsafat, dan jadilah peduli dengan mengkritik”.

Advertisements
Posted in @Sophy119, My Post

MENGALAMI KEBENARAN

Memang Kosep Kebenaran itu bisa dijelaskan lewat bahasa dan simbol. Tapi bahasa dan simbol bukanlah kebenaran itu sendiri.

Seperti kau akan menunjukkan keberadaan bulan dengan telunjukmu, tapi telunjuk bukanlah bulan.

Jika ingin melihat bulan, maka kau harus melampaui telunjukmu.
Begitu pun dengan bahasa dan simbol, ia bisa menunjukkan kebenaran, tapi ia bukan kebenaran itu sendiri.

Jika kau ingin melihat kebenaran, kau harus melampaui bahasa dan simbol, bahasa dan simbol lahir dari pikiran, dengan kata lain kau harus melampaui pikiranmu.

Dengan begitu kau akan mengalami kebenaran, bukan sekedar mengerti dan tahu akan kebenaran.