Posted in @Sophy119, My Post

Cita-cita menjadi Tuhan

image

Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.[1] Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, pantheisme, dan lain-lain. Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut pantheisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri.[wikipedia]

 Namun dari etimologi dan terminologi kata Tuhan dalam bahasa Melayu kini berasal dari kata “tuan”. Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah Ensiklopedia Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976). Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik.[2] Ahli bahasa Remy Sylado menemukan bahwa perubahan kata “tuan” yang bersifat insani, menjadi “Tuhan” yang bersifat ilahi, bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leidecker yang terbit pada tahun 1733.[3]

Dalam bahasa Indonesia modern, kata “Tuhan” pada umumnya dipakai untuk merujuk kepada suatu dzat abadi dan supernatural. Dalam konteks rumpun agama samawi, kata Tuhan (dengan huruf T besar) hampir selalu mengacu pada Allah, yang diyakini sebagai zat yang Maha Sempurna, pemiliki langit dan bumi yang disembah manusia. Tidak ada kesepahaman mengenai konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan dalam agama samawi meliputi definisi monoteistis tentang Tuhan dalam agama Yahudi, pandangan Kristen tentang Tritunggal, dan konsep Tuhan dalam Islam. Agama-agama dharma juga memiliki pandangan berbeda-beda mengenai Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Hindu tergantung pada wilayah, sekte, kasta, dan beragam, mulai dari paneteistis, monoteistis, politeistis, bahkan ateistis. Keberadaan sosok ilahi juga diakui oleh Gautama Buddha, terutama Sakra dan Brahma.

Itu adalah pengantar yang saya bisa berikan kepada kalian semua yang membaca tulisan saya ini, pengantar itu saya kutip langsung dari wikipedia. Dan bisa kalian lihat sendiri ketika kalian memasukkan kata “Tuhan” pada sreach engine di Wikipedia. Dan untuk judul yang saya berikan diatas “Cita-cita menjadi Tuhan” mungkin agak sedikit mengganjal di pendengaran kalian yang membaca tulisan saya ini. Yaaa untuk kalian yang sedang mengutuk saya sekarang saya persilahkan selama kita mempunyai tanggung jawab yang sama atas apa yang kita bicarakan, pikirkan, dan rasakan masing-masing.  

Cita-cita menjadi Tuhan adalah pikiran yang sudah terlintas lama dalam benak saya, saya tidak tahu persis kapan itu terjadi tetapi itu terlintas begitu saja ketika saya merefleksikan realita dalam hidup ini dengan sudut pandang yang berbeda. Tetapi bagaimanapun, saya adalah orang yang suka menumpahkan pikiran dan perasaan saya dalam sebuah tulisan seperti ini.  

Mungkin ini adalah sebagian kritik saya terhadap entitas yang dielukan sebagai Maha Sempurna, Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan gelar ke-Maha-Maha-an yang lain. Ke-Maha-an yang bernilai positif yang dimiliki Nya ini tidak bisa menutupi realita bahwasannya Ia juga memiliki ke-Maha-an yang bernilai negatif juga seperti, Maha Tidak Sempurna, Maha Jahat, Maha Pembenci, dan Maha-Maha lain. Ini adalah konklusi saya atas konsekuensi sifat Dualisme yang dimiliki Tuhan. Jika saat ini kalian menyangkal kedualistikan yang dimiliki Tuhan berarti kalian juga menyangkal sebagian isi dari kitab yang kalian sucikan. Karena dalam kitab yang disucikan itu secara jujur dan terus terang menyuratkan bahwasannya Tuhan bersifat Dualistik.  

Namun sifat kedualistikan Tuhan tertutupi oleh dogma yang mengatakan bahwasannya sifat Tuhan hanyalah yang baik-baik dan bersifat positif saja. Terlebih lagi jika dilihat dogma monoteisme yang terkesan menutupi sifat negatif yang dimiliki oleh Tuhannya. Padahal dalam Kitab Sucinya dengan jelas dan gembleng menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki sang Tuhan Dualisme. Dan disini bukan bahasan yang ingin saya sajikan, mungkin nanti saya akan menyajikan Kedualismean yang dimiliki Tuhan Monoteistik pada tulisan saya berikutnya.  

Kekecewaan yang saya rasakan atas keberkuasaan Tuhan yang menurut saya gagal dalam menjadi Sang entitas tertinggi di tatanan alam semesta ini. Bukan soal kekecewaan, kesedihan, kesakitan, yang dialami oleh milyaran manusia yang sekarang hidup di planet yang bernama bumi ini. Tetapi soal kutukan yang diterima manusia yang telah diberikan Tuhan kepada manusia yaitu Kehidupan. Kehidupan yang jika kita bertanya kepada diri kita masing-masing dengan pertanyaan yang sama yaitu : “Apakah saya benar-benar menginginkan untuk hidup sebelum saya hidup,? Apakah saya benar-benar meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan di dalam dunia ini sebelum saya dilahirkan,? Apakah saya benar-benar ingin kehidupan yang katanya anugrah dari Tuhan ini,?”    

Jawabannya adalah “TIDAK”, tepatnya saya tidak pernah benar-benar menginginkan untuk hidup sebelum saya hidup. Saya tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan ke dunia ini sebelum saya lahir di dunia ini. Dan saya tidak pernah menginginkan kehidupan yang kata orang-orang adalah anugrah, tetapi bagi saya adalah sebuah kutukan. Mungkin diantara kalian saat ini ada yang ingin menantang saya dengan kata-kata “Kenapa kau tidak mengakhiri kehidupanmu saat ini juga untuk mengakhiri kutukan yang telah diberikan Tuhan kepadamu,?”  jika ini yang sedang kalian pikirkan, kalian berada diposisi yang pas untuk pertanyaan, apakah Tuhan akan lari dari tanggung jawab Nya, setelah ia memberikan Kutukan kepada saya sebagai manusia lalu ia pergi meninggalkan saya sembari tertawa melihat saya yang akan mencabut kutukan itu dengan sendirinya,? Tidak ada yang bisa yang mencabut kutukan kecuali sang pemberi kutukan.

   Mungkin kalian semua tahu bahwasannya kematian juga merupakan salah satu kekuasaan yang Tuhan miliki, maka dari itulah saya akan mempersilahkan Tuhan untuk berbuat sesuai kehendakNya pula. Biarlah Tuhan yang akan memberikan saya kematian sesuai dengan kehendakNya pula. Jika Tuhan yang telah memberikan kutukan kehidupan, biarlah menjadi tanggung jawabNya untuk mencabut kutukan kehidupan ini dengan memberikan Kematian untuk saya. Saya akan menunggu waktu itu.   Sudah muak rasanya saya menyaksikan perang atas nama Tuhan, sudah muak saya mendengar jargon untuk membunuh manusia lain demi membela Tuhan. Berapa ribu liter darah manusia yang sudah mengalir dan dan tumbah hanya karena pembelaan atas nama Tuhan. Sebegitu lemahkah Tuhan yang harus dibela oleh seonggok daging yang bernyawa bernama manusia. Saya kira Tuhan mampu untuk membela diri Nya sendiri tanpa pembelaan dari manusia. Para pembela Tuhan adalah orang-orang naif yang mau berbuat kerusakan mengatas namakan Tuhan. Mereka semua bulsit. Bagi saya Tuhan tidak seharusnya dibela, biarlah Tuhan membela diriNya sendiri dengan keMaha Kuasaan Nya.

Untuk kasih Tuhan, yang selalu dielukan sebagai kasih yang sempurna, kasih yang tanpa pandang bulu, kasih untuk seluruh alam dan isinya. Namun sayang itu hanya jargon kosong yang palsu, sudah kosong palsu pula sungguh miris. Sebegitu kecilkah kasih Tuhan yang hanya diberikan kepada orang-orang yang mengenalnya saja. Lalu apa bedanya sifat Tuhan yang pilih kasih dengan sifat manusia yang hanya akan mengasihi manusia lain yang dekat dan kenal dengannya. Apakah karena kita tidak mengikutinya lalu membuat Tuhan marah dan murka kepada kita yang katanya kita berada dibawah kehendak Nya,? Apakah ini kehendak Nya, atau kehendak kita,?  
Tentang konsep surga dan neraka. Surga adalah manifestasi pilih kasih Tuhan kepada manusia yang dekat dengan Nya. Dan neraka adalah manifestasi Tuhan yang memiliki penyakit Jiwa yaitu Psikopat. Keduanya adalah manifestasi kecacatan Tuhan. Jika memang benar keduanya ada, itu adalah kecacatan konsep yang pernah saya temui, sejauh akal saya menalar sejauh itulah saya bisa menalar. Jika Tuhan membuat segala hal yang berhubungan dengan Nya adalah diluar nalar yang dimiliki manusia, mengapa Ia menciptakan Akal untuk manusia yang notabene adalah pembeda manusia dengan mahluk lain.? Dan mengapa Tuhan membuat manusia beda dengan mahluk lain,?  
Banyak yang bangga dan menjadikan akal budi sebagai karunia terbesar yang dimiliki manusia sebagai bukti kasih Tuhan yang dielukan. Tetapi dengan akal budi itulah kita berfikir dan merasakan segala realita kenyataan yang ada, dan dari situ pulalah timbul reaksi kita atas aksi yang telah dilakukan Tuhan. Memang benar dari akal budi inilah kita bisa berfikir sakarang ini, tapi ini yang saya pikirkan, mengapa reaksi kita juga bernilai,? Jika seandainya reaksi kita tidak bernilai, mungkin tidaklah sampai saya pada pertanyaan demikian.

  Dari empirisme yang saya rasakan itulah saya bercita-cita menjadi Tuhan. Tuhan atas alam semesta yang kecil ini jika dihadapkan kepada sang Tuhan atau pencipta alam semesta. Akan saya atur alam semesta sebagaimana mana ia terjadi, tidak akan ada pembatasan untuk setiap kealamian yang terjadi di alam semesta, sama seperti Sang Singa yang mencabik-cabik tubuh Sang Rusa yang tak bersalah, sama seperti Sang Ular yang melahap Sang Katak yang tak pernah berbuat salah kepada Sang Ular. Begitulah alam semesta akan bekerja dengan kealamiannya, perubahan yang menjadi dasar dari alam semesta dan akan menjadi hukum utama alam semesta.

  Tidak ada hari pembalasan yang menunjukkan keberpihakan saya sebagai Tuhan kepada Manusia, hanya akan ada hari penjelasan kepada manusia bahwasannya Kehidupan adalah sebuah kutukan dan hari akhir sebagai hari yang menguntungkan bagi setiap mahluk seluruhnya, bukan hanya untuk kaum dan umat tertentu. Semua manusia yang pernah hidup dalam bumi ini mendapatkan hak yang sama sebagai ciptaan Ku sebagai Tuhan. Tidak ada yang bersedih hati di hari itu, semua merasa kebahagiaan yang sama pada hari itu. Semua hanya akan mendapatkankan pelajaran kehidupan yang sementara ini.     Semua mahkluk akan Aku pangku dalam pangkuan Ku, semua akan mendapatkan kasih yang sama dari Ku, tidak ada pembedaan, keadilan Ku tak akan pernah berat sebelah. Kehendak Ku adalah persatuan mahluk dan alam semesta, tidak ada sifat negatif, karena negatifpun tiada. Inilah cita-cita saya, sebagai manusia yang pernah terlintas untuk bercita-cita menjadi Tuhan. Tetapi dengan kesadaran yang saya miliki itu tidaklah mungkin. Kemungkinan dari ketidak kemungkinan menjadi mungkin adalah tidak mungkin. Jadi biarlah saya menjadi manusia apa adanya, biarlah kealamian menjadi dasar saya, karena saya terlahir dari kealamian itu sendiri.

  Tuhan biarlah menjadi Tuhan, pemilik alam semesta ini yang merupakan ciptaannya, tidak perlu untuk menjadi fanatis ketika kita percaya akannya. Kepercayaan kepada Nya tidaklah perlu dibuktikan, karena itu adalah hak setiap manusia. Mau percaya mau tidak itu sudah menjadi kehendak Nya. Perbedaan seharusnya tidaklah perlu untuk di tunjukkan, tetapi persamaan itulah yang seharusnya dijunjung tinggi. Perbedaan biarlah menjadi perbedaan, jangan jadikan perbedaan menjadi penghapus dari persamaan yang kita miliki.  

“Jangan mengaku punya Tuhan karena Tuhan bukan barang yang bisa dimiliki, karena sejatinya kita semua berTuhan walaupun kita tidak punya Tuhan.”