Posted in @Sophy119, My Post, My Story

ESENSI MENCINTAI

Apa itu mencintai,? Hem. Sebelum kita menanyakan pertanyaan itu lebih bijak jika kita menanyakan apa itu cinta,? Sok mari kita telisik di wikipedia dan kita ketikan kata “cinta”. Dan hasilnya adalah jreng jreng, wahh banyak sekali kutipan kalo mau dikutip semua, dan mungkin saya akan mengutip beberapa bagian saja. Dan ini adalah hasil kutipan saya dari wikipedia :

“Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang(afeksi = semacam status kejiwaan yang disebabkan oleh pengaruh eksternal) yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta adalah suatu perasaan positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut :

· Perasaan terhadap keluarga
· Perasaan terhadap teman-teman (philia)
· Perasaan yang romantis (asmara)
· Perasaan yang hanya merupakan kemauan, keinginan hawa nafsu, (cinta eros)
· Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang (agape)
· Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri (narsisisme)
· Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
· Perasaan terhadap negara (patriotisme)
· Perasaan terhadap bangsa (nasionalisme)”

Bisa kita lihat diatas bahwasannya definisi cinta adalah perasaan positif yang bisa diberikan kepada manusia maupun benda lainnya, itu menurut wikipedia. Silahkan mau sepakat atau tidak dengan definisi yang dipaparkan diatas, kalian memiliki hak yang sama untuk mengemukakan definisi cinta menurut kalian masing-masing. Karena memang cinta itu bentuknya abstrak, dan yang abstrak itu lebih mudah dialami dari pada dijelaskan dengan kata-kata.

Tapi disini saya ingin mencoba mengemukakan konsep “cinta” atau lebih tepatnya “mencintai” menurut pandangan saya yang akan saya beri judul “Esensi Mencintai”. Apa esensi mencintai itu,? Bagi saya esensi mencintai adalah membahagiakan orang yang kita cintai Ingat penekanan disini saya buat didalam konsep membahagiakan seseorang yang kita akui sebagai seorang yang kita cintai. Jadi menurut saya jika kalian mengaku mencitai seseorang, kalian haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat orang yang kalian cintai itu bahagia. Ingat, membuat orang yang kita cintai bahagia, terlepas kita bahagia atau tidak itu tidak termasuk didalam konsep ini. usaha kita dalam mencoba sebisa mungkin membahagiakan orang yang kita cintai itulah inti konsep ini.

Karena bagi saya mencintai adalah soal memberi, bukan menerima. Memberi apa,? Memberi cinta yang kita punya, memberi apapun yang bisa kita beri kepada orang yang kita cintai hanya untuk demi kebahagiannya, bukan kebahagiaan kita. Itulah kemurnian cinta. Jika kau siap mencintai berarti kau siap untuk memberi segala tanpa hasrat menerima darinya. Mungkin sebagian kalian agak memandang konsep ini sebagai konsep yang bodoh jika benar dijalankan. Tapi memang jika kita berbicara soal cinta yang memang abstrak, mungkin logika kita membodohkan konsep ini. tapi ingatkah kalian jika logika kita ini memang bersifat paradok, dualisme, bertentangan, dan itu memang benar. Jadi saya pun bisa membuat argumen yang benar berdasarkan logika untuk mendukung konsep yang saya bangun ini. Dan untuk esensi mencintai kali ini saya akan cenderung memaparkan contoh dari cinta terhadap lawan jenis kita (asmara).

“CINTA ITU TAK HARUS MEMILIKI”

Apa pendapat kalian tentang pernyataan diatas,? Mungkin sebagian besar diantara kalian tidak setuju dengan pernyataan diatas, dan mungkin sebagian lain setuju dengan pernyataan diatas. Inilah bentuk dualisme logika, satu pernyataan akan menimbulkan setidaknya dua pemahaman yang berbeda, tergantung pengetahuan dan refleksi tentang cinta dari masing-masing individu itu sendiri. Tetapi bagi saya, saya sepakat dengan pernyataan diatas karena saya telah membuat sebuah konsep mencintai dengan esensinya adalah membahagiakan orang yang kita cintai. Bukan memiliki orang yang kita cintai. Untuk apa kita memiliki seseorang yang kita cintai, tetapi ia tak mendapatkan kebahagiaan bersama kita.? Lebihlah bijak jika kita membiarkan dia dengan orang yang ia cintai dengan syarat itu akan membuat ia bahagia.

Dengan melihat seseorang yang kita cintai itu bahagia kita pun akan dengan sendirinya merasakan kepuasan karena tujuan dari esensi mencintai kita telah terpenuhi, dan pada akhirnya kita pun akan ikut bahagia dengan kebahagiaan yang telah dialami oleh orang yang kita cintai. Jika dalam mencintai kau masih mengharap untuk kesalingan atau timbal balik dalam hal apapun, sesungguhnya cintamu belum semurni cinta pada esensinya. Dalam mencintai seharusnya tidak ada pikiran atau perkataan seperti ini : “jika kau tak mencintaiku maka akupun tak akan mencintaimu, aku akan mencintaimu jika kau mencintai aku, untuk apa aku mencintai seseorang yang tak mencintaiku, aku hanya akan mencintai seseorang yang mencintaiku”. Pikiran dan perkataan ini memang masuk akal dan benar seharusnya, tetapi apakah cinta mengenal kebenaran,? Cinta itu melampaui kebenaran, yang benar adalah kita mencintai, bukan kita mencintai itu benar.

Kesalingan saling mencintai haruslah menjadi ciri ideal dari cinta, tidak ada paksaan didalamnya. Apa maksudnya,? Ya bukan karena saya mendukung pernyataan “cinta itu tak harus memiliki” lalu dalam konsep mencintai saya itu tidak ada kesalingan untuk memiliki dan bersama. Kesalingan untuk memiliki dan bersama atau saling mencintai adalah ciri ideal dari konsep mencintai bagi saya. Itu memang jarang terjadi, tapi bukan tidak ada. Yang banyak terjadi adalah kasus seperti dibawah ini :

“Si A (pria) mencintai si B (wanita), tetapi si B (wanita) mencintai si C (pria), terlepas dari si C (pria) ini mencintai si B (wanita) atau tidak”

Mungkin jika kita andaikan kasus diatas menimpa saya, dan saya berada di posisi A (pria), saya akan tetap mencintai si B (wanita) dengan konsep mencintai yang saya punya. Tetapi disini dengan syarat saya telah mengungkapkan cinta saya kepada si B (wanita) dan si B (wanita) tahu bahwasannya saya mencintai dia. Ini agar sikap yang kami berikan ke masing-masing telah ada. coba bandingkan 2 keadaan berikut :
1. Si A (pria) mencintai si B (wanita), si A (pria) mengungkapkan rasa cintanya kepada si B (wanita). Setelah proses pengungkapan cinta si A (pria) kepada si B (wanita) sikap keduanya telah terbangun, si A (pria) mencintai si B (wanita), dan si B (wanita) tahu bahwasannya si A (pria) mencintainya.
2. Si A (pria) mencintai si B (wanita), si A (pria) tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada si B (wanita). Dan si B (wanita) tidak mengetahui jikalau si A (pria) mencintainya.

Disini tidak akan ada sikap di antara mereka berdua karena si B (wanita) tidak mengetahui bahwasannya si A (pria) mencintainya. Disini bisa dilihat bahwasannya jikalau saya mengakui mencintai dia, dan saya berani mendeklarasikan kepada diri saya sendiri bahwasannya saya mencintai dia, saya harus mendeklarasikan atau mengungkapkan rasa cinta saya kepada dia. Agar bisa terbangun sikap diantara saya dan dia. Itulah tujuan dari pengungkapan rasa cinta. Ingat, disini bukan soal menjadikan dia sebagai pasangan ataupun pacar, tetapi penekanannya ada disisi pengungkapan rasa cinta itu sendiri agar yang mencintai mengungkapkan rasa cintanya kepada yang dicintai, dan yang dicintai tahu bahwa dia dicintai oleh orang yang mencintainya.

Kita kembali ke kasus, telah saya katakan diatas bahwasannya jikaulau saya berada di posisi si A (pria), pertama-tama yang harus saya lakukan adalah mendeklarasikan kepada diri saya sendiri bahwasannya saya mencintai dia, dan setelah itu saya akan mendeklarasikan atau mengungkapkan perasaan saya kepadanya, saya akan mengungkapkan bahwa saya telah memiliki perasaan kepadanya, saya mencintai dia. Setelah pengungkapan itu akan terbangunlah sikap diantara kami, itu pasti. Sikap saya dan sikap dia akan berubah dikarenakan dia sekarang telah mengetahui bahwasannya saya mencintai dia. Tak lupa saya akan bertanya soal kebahagiaan dia, saya tidak akan berspekulasi tentang apa yang akan membuat dia bahagia, tetapi saya lebih memilih menanyakan apa yang bisa saya bantu untuk membuat dia bahagia.

Dalam kasus diatas si B (wanita) mencintai si C (pria), berarti si B (wanita) tidak mencintai saya sebagai si A (pria). Dan si B (wanita) beranggapan, bahwa kebahagiaan dia itu ketika bisa bersama dengan si C (pria) terlepas si C (pria) itu mencintai si B (wanita) atau tidak. Jadi saya selaku si A (pria) yang mencintai si B (wanita) akan berusaha untuk membuat mereka bersama demi kebahagiaan si B (wanita). Itulah esensi mencintai yang saya punya. Beginilah konsep itu bekerja. Tetapi konsep itu tidak berhenti ketika si B (wanita) telah bersama dengan si C (pria). Selama rasa cinta itu ada di hati saya selaku si A (pria) saya terus harus selalu ada untuk si B (wanita). Bukan untuk mengganggu hubungan mereka berdua, tetapi menjadi seorang yang mencintai yang hanya ingin kebahagaian orang yang dicintai.

Nah untuk kesalingan saling mencintai yang merupakan ciri ideal dari cinta yang tidak ada paksaan didalamnya, kasusnya bisa dibikin serupa namun hanya melibatkan si A (pria) dan si B (wanita). Jadi seperti inilah kasusnya :

“Si A (pria) mencintai si B (wanita), dan si B (wanita) mencintai si A (pria)”

Ini mungkin bentuk ideal dari konsep mencintai yang saya punya, ketika saya mencintai seseorang yang sejatinya seseorang itupun mencintai saya. Tetapi kami belum tahu bahwa kami sama-sama saling mencintai karena masing-masing dari kami belum mendeklarasikan atau mengungkapkan perasaan yang kami punya bahwa saya mencintai dia dan diapun mencintai saya. Oleh karena itu pendeklarasian atau pengungkapan perasaan itupun dianggap hal yang penting dalam esensi mencintai. Karena didalam pengungkapan rasa cinta itu akan dimulai babak baru dalam proses hubungan keduanya dan akan terbangunnya sikap pada masing-masing. Keterbukaan keduanya akan muncul dengan sendirinya. Jika sejatinya mereka sama-sama mencintai tanpa ada paksaan, dan motif mereka sama yaitu mencintai untuk membahagiakan seorang yang dicintai, disinilah kesalingan terjadi, bersama-sama saling mencintai, dengan sadar mencintai, mengerti esensi mencintai, tak lebih menekankan dari esensi mencintai itu sendiri. Itulah bentuk ideal dari cinta yang mengandaikan kesalingan.

Jadi bisa dibilang sesungguhnya yang bersamamu sekarang belumlah tentu mencintaimu, jika ia masih menganggap kesalingan dalam cinta adalah hal yang wajib, jika ia tak akan mencintaimu lagi bila ia tak bersamamu. Yang benar adalah seseorang yang meski tak bersamamu, tapi tetap mencintaimu dengan segenap esensinya ia berikan kepadamu, itu ia yang mencintaimu dengan sadar, sadar akan esensi mencintai, yaitu kebahagiaanmu. Dia lah yang tak mengharapkan kesalingan dari mu, ia mencintaimu titik tak ada harapan egoistis disana.

Mungkin itulah sedikit pemaparan saya tentang konsep esensi mencintai dari saya, memang konsep ini bukanlah suatu konsep yang besar dan terstuktur, tetapi konsep ini adalah sedikit keberanian saya untuk membangun suatu abtraksi atas konsep yang memang lebih mudah untuk dialami dari pada untuk dijelaskan dengan kata-kata atau di konsepkan. Kritik dan saran sangat dibutuhkan dalam pembangunan konsep ini agar lebih menjadi baik lagi dalam hal isi dan penyampaian dari saya. Semoga bermanfaat saya tutup dengan satu pesan dari saya.

“CINTAILAH CINTA DEMI CINTA ITU SENDIRI, JANGAN JADIKAN CINTA SEBAGAI ALAT UNTUK TUJUAN SELAIN CINTA”.

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s