Posted in @Sophy119, My Post, Puisi

SIAPA AKU,?

Oleh :
ARIEF SOFYAN

Satu kata dua suku kata tiga huruf
Gabungan huruf A huruf K dan huruf U
Yaa, AKU
Namun sayang label yang sesederhana itu
Menyimpan enigma yang mendalam

Siapa aku,?
Siapa gerangan yang berbicara ini,?
Siapa gerangan yang mendengar ini,?
Siapa gerangan yang menulis ini,?
Siapa gerangan yang bertanya ini,?

Aku siapa,?
Aku bukanlah nama yang diberi orang tuaku
Aku bukanlah seonggok daging yang bisa berbicara
Aku bukanlah manusia karena manusia bukanlah aku

Bukankah aneh jika aku tak mengenal siapa aku,?
Bagaimana bisa aku mengenal yang lain,
Jika aku sendiri tak mengenal siapa aku.?

Usiaku kini sudah 21 tahun
Terhitung dari 8 Desember 1992
Sampai dengan 8 Desember 2013
Tapi mengapa aku tak tahu siapa aku,?

21 tahun aku lalui tanpa tau siapa aku ini
Ini sebuah ironi yang baru aku sadari hari ini
Begitu banyak orang yang telah aku kenal
Tetapi aku sendiri aku tak mengenalnya

Apa yang membuatku lalai dari mengenal diriku sendiri,?
Apa yang membuatku melupakan pertanyaan esensi ini,?
SD, SMP, SMA, dan sekarang
Hingga aku duduk di bangku perkuliahan
Tak pernah sekalipun aku menanyakan siapa aku ini

Kini, saat ini, aku sedang bertanya
Bertanya kepada diriku sendiri
Tentang siapa aku ini
Tapi aku belum bisa menjawab pertanyaan ini
Adakah dari kalian yang tau
Siapa aku,?

Posted in @Pak Reza, @Sophy119, My Post

Refleksi Kematian oleh Pak Reza

      Beliau adalah seorang pengajar di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya. Bidang penelitian Filsafat Politik, Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Timur. Penulis lepas di berbagai media. Kini sedang melakukan penelitian Filsafat Politik di Munchen, Jerman. Itulah pak Reza A. A Wattimena atau nama lengkapnya adalah Reza Alexander Antonius Wattimena.

      Saya mengenal beliau pada saat saya sedang mencari sebuah blog aktif yang khusus membahas filsafat yang berbahasa indonesia, dan sampailah saya pada blog yang mempunyai alamat yang bagus yaitu http://www.rumahfilsafat.com. Nama yang menyiratkan bahwasannya didalamnya bernaung tulisan – tulisan yang berbau filsafat yang dihimpun dalam sebuah rumah. Setelah saya berkunjung dalam blog saya mulai tertarik dengan blog itu karena dalam blog itu sesuai dengan apa yang saya cari selama ini, yaitu tulisan yang memuat refleksi seorang tentang suatu tema yang diangkat dan di kaji secara filosofi. Singkatnya saya dan beliau berkenalan dan berdiskusi bersama dalam forum blog itu, dan sampai saat ini saya masih mengikuti dan menunggu tulisan-tulisan dari beliau.

      Kemarin saya mengadakan mengadakan Jajak Pendapat Opini tentang KEMATIAN, dan dari teman-teman saya, saya telah mendapatkan pendapat yang beragam. Dan sekarang tak lengkap rasanya jika saya tak memasukkan Pak Reza yang sudah saya anggap sebagai salah satu Guru Filsafat saya dalam Jajak Pendapat Opini tentang Kematian, meskipun saya belajar filsafat hanya dengan membaca tulisan beliau saja, tetapi tidak mengurangi rasa hormat saya kepada beliau dan menjadikan beliau sebagai salah satu Guru untuk menambah wawasan saya tentang Filsafat. Dan ini adalah refleksi beliau tentang Kematian :

Kematian dan Kesalahpahaman

Masih teringat jelas di kepala saya, ketika saya diberikan penjelasan, bahwa Bobo, anjing kesayangan saya , meninggal. Saya masih kecil, dan belum sungguh paham, apa artinya, jika sesuatu itu meninggal. Apakah dia menghilang? Begitu pertanyaan saya. Mbak Inah, pembatu di keluarga kami yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, hanya berkata, “Bobo sudah pergi ke surga, Sinyo.” Surga? Tempat apa itu. Yang saya tahu, bobo kini hidup di taman depan rumah kami bersama dengan pohon dan rumput yang tumbuh disitu.

      Setelah itu, beragam peristiwa terkait dengan kematian mulai menjadi pertanyaan buat saya. Diawali dengan kematian kakek dari tetangga saya. Kami mengenalnya sebagai “Engkong baik hati” yang suka memberikan kue dan permen untuk kami, anak-anak kecil yang suka berlarian didepan rumahnya. Yang paling puncak dan memukul saya adalah kematian ayah saya yang begitu mendadak pada 2014 lalu.

Antara ketakutan dan harapan

      Dihadapkan pada pertanyaan tentang kematian, banyak orang dikepung oleh ketakutan. Mereka membayangkan peristiwa perpisahan dengan apa yang mereka anggap berharga dalam hidup. Ada yang membayangkan neraka yang penuh dengan api panas, dan ada yang membayangkan surga yang penuh dengan buah manis. Kecemasan dan ketakutan terselip dibalik dua bayangan itu.

      Orang lalu terpaku untuk hidup sehat, guna memperlambat kematian. Mereka berolahraga dengan giat, serta terobsesi dengan segala macam program kesehatan, mulai dari diet ala Dedi Corbuzier sampai dengan membeli peralatan fitness pribadi untuk dirumah. Dibalik segala usaha yang sekilas tampak mulia itu, sesungguhnya ada ketakutan yang tak pernah bisa dilepas.

      Kita juga sedih dan takut, ketika mendengar berita tentang kematian. Kita merasa sedih, ketika membaca berita tentang kematian, akibat perang yang tak henti-hentinya di Timur Tengah. Kita merasa sedih, ketika mendengar, teman dekat atau saudara kita meninggal. Kematian mengundang beragam emosi yang sering kali sulit dikendalikan.

      Ada juga yang melihat kematian sebagai harapan. Bagi mereka, hidup adalah penderitaan. Hidup dipenuhi dengan tantangan dan ketidakadilan. Maka kematian lalu berguna menjadi jalan keluar, guna mendapatkan keadaan yang lebih baik. Namun, dibalik ketakutan dan harapan, apa sesungguhnya kematian itu,? Apakah ia ada? apakah ia hanya sekedar konsep atau bayangan kita? Mengapa ia dipenuhi begitu banyak misteri yang mengundang kecemasan sekaligus harapan?

Perubahan dan Kesalingterkaitan

      Jika kita bilang, bahwa sesuatu itu mati, kita secara tidak langsung menyatakan, bahwa sesuatu itu berakhir. Ada titik yang mengakhiri keberadaannya. Ada keterputusan antara “ada”, dan menjadi yang “tiada”. Namun, apakah sesuatu itu pernah sungguh berakhir?

      Bobo, anjing saya, kini menyatu dengan pohon, rumput serta buah di taman depan kami yang kecil. Abu jenazah dari “Engkong yang baik hati” kini tersebar di lautan di dekat Pantai Ancol. Abu ayah saya kini menyatu bersama ikan dan beragam mahluk hidup lainnya di laut Jawa.

      Mereka tidak berakhir. Mereka bergerak lanjut. Mereka berubah. Mereka memperkaya kehidupan. Mereka tidak terputus. Mereka tidak “mati”.

      Salah satu hukum utama di dalam fisika modern adalah hukum kekekalan energi. Isinya menegaskan, bahwa energi tidak bisa musnah. Ia hanya bisa berubah. Mereka yang “mati” tidaklah berakhir, melainkan berubah, dan memperkaya kehidupan semesta.

      Didalam Filsafat Timur, keberadaan (existence) selalu terkait dengan perubahan (impermanence) dan kesalingterikatan (interdependence). Artinya, keberadaan kita tidaklah pernah tetap. Ia selalu berubah sejalan dengan perubahan segala hal yang ada di alam semesta. Kita juga tidak pernah sendirian, melainkan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari segala yang ada di alam semesta ini.

Kesalahpahaman

      Belajar dari fisika modern dan Filsafat Timur, kita bisa bilang, bahwa kematian itu tidak ada. ketika orang “mati”, tubuh dan energinya bergerak terus memperkaya kehidupan semesta yang selalu menjadi bagian dari dirinya. Kita tidak pernah berakhir. Tidak ada titik dan kata putus di dalam keberadaan kita.

      Kematian, dengan demikian, adalah kesalahpahaman. Kematian adalah konsep yang lahir dari kesalahan berfikir. Sejatinya, senyatanya, kita tidak pernah mati, dan kita tidak pernah lahir. Kita selalu ada di alam semesta ini dengan segala bentuk yang kita gunakan, dan selalu dalam hubungan dengan segala hal yang ada.

      Bobo, anjing saya tercinta, kini menjadi buah yang siap dimakan, ketika musimnya tiba. Ayah saya kini menjadi bagian dari lingkungan laut yang juga tak bisa dipisahkan dari kehidupan lainnya. Semuanya saling terhubung dan tak terpisahkan. Kita adalah mereka.

      Namun senyatanya, tidak ada kita. Tidak ada mereka. Semua hanyalah konsep. Senyatanya, kita semua satu dan sama. Tak ada mati. Tak ada hidup. Tak ada gerak. Tak ada perubahan. Tak ada keterpisahan. Tak ada perpisahan, mungkin sebaiknya, kita menari…