Posted in @Sophy119, My Post, My Story

“FM” Kisah Cinta Pertama

      FM

      FM adalah inisial nama lengkap dari seorang perempuan yang tempat tinggalnya berada tak jauh dari tempat tinggal saya dulu. Dan Y adalah nama panggilan akrab saya untuk dia. Dia adalah sulung dari 2 saudara dari pasangan suami istri yang juga sahabat dari dari ayah dan ibu saya. Kini ia sedang menempuh jenjang pendidikan tinggi juga di Lampung, IAIN Lampung tepatnya. Ya provinsi yang sama namun berbeda kampus dengan saya.

      Ada cerita klasik khusus mungkin antara ayah saya dan ibunya disaat mereka berdua masih remaja, oleh karena saya sering mendapat guyonan “penerus perjuangan cinta antara ayah saya dan ibunya” begitu candaan para paman dan bibi saya ketika tau saya dekat dengan Y.

      Didepan rumah saya terdapat jalan yang tak terlalu lebar sekitar kurang lebih 4 meter, jika saya berjalan ke arah kanan mengikuti jalan itu hingga kurang lebih 500 meter, sampailah saya di rumah Y. Dan tak jauh dari tempat tinggal saya dan tempat tinggalnya, ada sebuah Masjid yang bernama Masjid Nurul Hidayah yang mana merupakan satu-satunya masjid di desa saya. Saya tinggal di Desa Pemetung Basuki, Kec. BP. Peliung, Kab. OKU Timur, Sumatera Selatan, Indonesia.

      Masjid itu juga memilik TPA (semacam tempat mengaji anak-anak) yang saya dan ia termasuk anak-anak yang ikut mengaji disana. Mengaji di sore hari mulai jam setengah 4 sore atau sebelum berkumandangnya adzan ashar, hingga jam setengah 6 sore adalah kegiatan rutin kami anak-anak yang ikut mengaji di TPA masjid kami. Mungkin ada sekitar 70an lebih anak-anak yang ikut mengaji disana, dan itu terbagi-bagi menjadi beberapa kelas. Saya lupa persisnya berdasarkan apa pembagian itu,?

      Selain itu tempat mengaji saya yang kedua adalah tepat disebelah kiri rumah saya, ya Musola Al-Iman adalah musola yang terbangun tepat di sebelah kiri rumah saya. Dan musola itupun adalah tempat mengaji kami para anak-anak di lingkungan Rt 2 dan Rt 3 pada malam harinya. Jadi saya mengaji 2 kali setiap harinya. Kebetulan kakek dari Y adalah imam musola di sebelah rumah saya itu, jadi ia dan adiknya R sering ikut bersama kakeknya untuk menunaikan sholat magrib dilanjut mengaji setelahnya, dan ditutup dengan sholat isya berjamaah. Itu adalah kegiatan rutin harian saya pada waktu itu.

      Kedua tempat inilah yang akan menjadi saksi dari kesan cinta monyet saya dengan Y. Ya cinta monyet yang sering di katakan oleh para orang dewasa waktu itu yang ditujukan kepada anak-anak macam kami yang mengalami masa-masa saling mengenal dan suka antar yang lain. Saya tidak tau dulu apakah saya hanya merasakan rasa suka saja dengan Y atau mungkin juga saya merasakan cinta seperti apa yang saya pahami saat ini. Mungkin keadaan pertamalah yang saya rasakan waktu itu.

      Saya lupa tepatnya kapan pertama kali saya memiliki kesan dengan Y, mungkin karena rumah kami yang dekat dan keseringan kami bertemu di tempat mengaji kami, sehingga saya merasakan begitu saja kesan yang telah menjadi kenangan tersendiri untuk saya tentangnya.

      Kisah kesan kami pun berawal dari sekedar saling memandang dan tersenyum saat memandang, sampai mengirim salam yang dititipkan lewat adiknya, hingga berbalas surat seperti kisah cinta orang dewasa. Haha 😀 memang pada waktu saya anak-anak belum ada alat komunikasi seperti Handphone. Handphone adalah barang mewah yang hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya.

      Jadi kami pun hanya menggunakan media surat untuk saling sekedar menyapa hingga menuliskan perasaan yang kami punya pada waktu itu. Adiknya R adalah kurir surat diantara kami berdua. Saya tidak ingat persis apa isi surat-surat itu, dan tidak ada sesuatu barang kenangan yang saya miliki tentang kisah kami, tetapi saya masih mengingat bahwa saya pernah mempunyai kesan terhadap Y.

      Pun saya telah melakukan hal yang bisa dibilang sangat biasa terjadi kepada anak-anak seumuran kami pada waktu itu, saya tidak tau persis apa yang mengilhami anak-anak seperti kami untuk melakukan hal-hal konyol seperti itu.

      Saya saja masih sedikit menahan tertawa ketika merecall kembali ingatan-ingatan tentang hal-hal yang pernah saya lakukan untuk memberikan surat cinta saya kepadanya. Dari menitipkannya kepada R, sampai nekat untuk memberikannya sendiri kepada Y sebelum kakeknya selesai menyelesaikan dzikir sehabis sholat isya’. Dan itu tidak pernah ketahuan dengan kakeknya. Saya langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah memberikan surat itu kepada Y.

      Dan yang tak kalah konyolnya adalah saat saya menerima surat balasan dari Y. Kebanyakan surat balasan itu dititipkannya kepada R untuk deiberikan kepada saya. Mungkin dia malu untuk memberikannya langsung kepada saya. Setelah saya menerima surat itu, saya tidak akan membacanya disembarang tempat, saya pasti membacanya dikamar saya sendiri, bukan diatas kasur, tetapi dibawah kolong kasur saya. Sungguh absurd apa yang pernah saya kerjakan itu. Haha 😀

      Kisah kesan saya itu terasa menyenangkan untuk dijalani oleh saya sewaktu itu. Menyenangkannya adalah pada saat menunggu surat balasan dari surat-surat yang saya kirimkan kepada saya. Kendalanya adalah jarang dia dan R ikut mengaji di malam harinya itu, hanya saja untuk setiap sorenya kami pasti bertemu dan kami tak menyinggung soal surat-surat cinta itu. Tidak tau apa memang kami berdua adalah tipe orang yang suka menyimpan rahasia dan menyimpan perasaan tentunya dihadapan teman-teman kami.

      Sampai suatu saat teman akrab saya TM pun bercerita kepada saya bahwa dia suka dengan Y. TM adalah teman dekat saya sewaktu itu, rumahnya berada dibelakang rumah saya. Yah bisa dibilang ia adalah teman akrab saya sewaktu kecil sampai dengan SMP. Karena sejak SMA dia sudah bersekolah di Pulau Jawa, meninggalkan Pulau Sumatra tempat kelahirannya. Dan semenjak itupun kami sudah jarang berkomunikasi lagi dan mungkin karena itu, kami kini tak sedekat dulu.

      Dia lebih muda dari pada saya, 2 tahun tepatnya. Dia lahir tahun 1994, sedang saya lahir di tahun 1992. Tetapi kami seperti adik dan kakak sewaktu itu, saya sering main ke rumahnya demikian pun dia. Orang tua kami pun dekat satu sama yang lain. Kami seperti saudara kandung ketika itu.

      Tapi dilematis bagi saya, saat teman akrab saya bercerita soal perasaannya dengan orang yang dengan dia pun saya memiliki perasaan yang sama. Tetapi saya tidak tau mengapa saya sudah bersikap untuk menyembunyikan perasaan saya diharapan teman saya ini, dan lebih untuk mendengarkan dan menanggapi curhatan dari teman saya ini.

     Ntah saya bodoh atau seperti apa, saya malah mendukung untuk dia mengungkapkan perasaannya kepada si Y. Saya juga membantu untuk mendekatkan TM dengan Y. Dan isi surat-surat saya sudah tak berisi tentang gombalan-gombalan dan tulisan-tulisan yang memabukkan saya sendiri. Tetapi lebih mengalihkan kepada pembahasan soal TM punya perasaan dengan Y. Dan saya pun tidak tau apa yang sudah saya lakukan ini benar atau salah.

      Dari semenjak sahabat saya bercerita soal perasaannya kepada Y, mulai dari situ perasaan saya kepada Y berubah, tepatnya sikap saya yang berubah. Saya lebih mengangkat tentang perasaan TM dan Y kepermukaan dari pada perasaan saya sendiri untuk Y. Dari situlah mungkin Y beranggapan bahwa saya tidak memiliki perasaan lagi kepadanya, tetapi saya katakan Y salah. Karena perasaan lagi bukan tidak ada lagi, tetapi saya sendiri yang menyembunyikannya agar semua orang, bahkan diapun tak tau.

      Hingga pada akhirnya keduanya pun sudah dekat, dan masing-masing pun sudah sangat dekat bahkan hingga terakhir saya melihat kedekatan mereka 2 tahun lalu ketika hari raya Id Fitri, saya dan TM berkunjung ke rumah kakeknya Y untuk menutupi modus kami yang sebenarnya ingin bersilaturahmi dengan Y. Tapi untuk sekarang saya jarang untuk berkomunikasi dengan mereka berdua. Mungkin dengan Y karena saya ada kontaknya.

      Tapi apapun keadaannya sekarang, meskipun saya sudah tak mengembangkan atau menjaga bunga kesan cinta saya yang sudah lama saya tutupi dan saya tak menghilangkan kesan tersebut, biarlah itu menjadi cerita dan bagian hidup saya yang sudah menjadi kenangan dan cerita untuk anak cucu saya nanti.

      Itu adalah kisah kesan saya tentang pertama kalinya saya merasakan perasaan terhadap lawan jenis saya. Walaupun dulu belum terlalu mendalam dan mungkin hanya sekedar cinta monyet jika kata orang. Tapi saya mendapatkan kesan tersendiri untuk kisah pertama saya ini, dan semoga menjadi catatan pribadi saya, sekaligus umum untuk para pembaca blog ini.

Untuk kisah selanjutnya saya akan mengisahkan tentang NS, tunggu ditulisan berikutnya. 🙂

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s