Posted in @Sophy119, My Post

KONSEP PENILAIAN TIMBANGAN

timbangan

“Wah,saya kecewa dengan si B, karena dia sudah berbohong kepada saya, padahal selama ini kami bersahabat dengan baik-baik saja. Untuk apa berteman dengan pembohong.? Saya akan menjauhinya.!”

 

      Pernahkah anda mengucapkan kalimat tersebut kepada teman anda,?  Mungkin itu adalah hal biasa terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari persahabatan, didalam keluarga, atau bahkan di dalam lingkungan asmara (tentunya dengan kalimat yang berbeda, meski esensinya sama). Dan itu adalah hal yang sangat wajar, bahkan itu adalah sikap yang benar bagi kita jika kita mendapati seseorang yang ada di dekat kita bersikap tak seperti yang kita harapkan.

      Seperti kasus dalam persahabatan contohnya, si A adalah sahabat si B, mereka sudah bersahabat cukup lama, dan berjalan dengan baik-baik saja. Suatu saat si B melakukan hal yang tidak diharapkan si A misalnya. Si B berbohong kepada si A, yang membuat si A menilai B ternyata adalah pembohong (terlepas apakah kebohongan yang dilakukan si B adalah kebohongan kecil atau kebohongan besar). Lalu si A mengambil sikap untuk menjauhinya seperti ungkapan kalimat yang saya contohkan diatas.

      Pertanyaannya adalah apakah sikap yang dilakukan si A benar,? (kita tidak sedang membahas si B, tetapi fokus kita adalah si A). Dan mungkin sebagian besar kalian akan menjawab YA BENAR. Dan itu mungkin adalah jawaban yang sangat wajar, jika kalian memiliki jawaban itu.

      Saya disini bukan untuk menghukum sikap si A BENAR atau SALAH, tapi disini saya akan mencoba menawarkan suatu refleksi pemikiran yang saya punya. Terkait dengan kasus di atas, adalah kasus yang melibatkan suatu penilaian seseorang terhadap yang lain. Penilaian yang akan mendasari sikap, dan sikap yang akan melekat kepada diri dan membentuknya sebagai personal.

PENILAIAN

      Apa itu nilai,? Nilai adalah fenomen kesadaran, pengungkapan perasaan psikologis, sikap subjektif manusia kepada objek yang dinilai. Kata nilai juga berkaitan dengan kata harga yang berarti penilaian adalah penghargaan kita terhadap sesuatu. Jadi bagaimana kita menghargai sesuatu itu adalah tergantung bagaimana kita menilainya.

      Apa pentingnya Penilaian kita terhadap sesuatu,? Sudah saya singgung diatas, bahwasannya bagaimana kita menilai sesuatu itu, itulah yang akan menentukan sikap kita terhadapnya. Jika kita sudah menilai sesuatu itu dengan label yang negatif seperti salah, buruk, dan jelek, kita pun akan bersikap negatif juga, seperti akan menghindarinya, membuangnya, membencinya, dan lain sebagainya (tergantung pada konteks yang ada).

      Namun jika kita memberikan penilaian yang positif seperti label benar, baik, dan indah, kita dengan otomatis akan bersikap positif pula dengan cara mendekatinya, mengambilnya, dan mencintainya (juga tergantung konteks yang ada). Begitulah penilaian yang akan mempengaruhi sikap kita. Sikap yang akan melekat kepada personal yang akan membentuk diri kita.

KONSEP PENILAIAN AKHIR

        Lalu bagaimana dengan kasus diatas,? Mengapa dengan satu penilaian negatif seperti salah, buruk, dan jelek akan membuat kita bersikap dengan secara otomatis menghindarinya, membuangnya, atau membencinya,? Jawabannya adalah kita telah terbawa perasaan atau emosi kita saat itu juga. Pun demikian disaat kita menilai dengan label positif seperti benar, baik, indah, kita akan bersikap positif juga dengan bersikap mendekatinya, mengambilnya, atau mencintainya.? Jawabannya tetap sama.

       Mari kita ambil contoh diatas. Saat si A merasa bahwa si B telah membohonginya, dan si A adalah orang yang sangat membenci pembohong, maka secara otomatis si A mengambil sikap untuk menjauhi si B, padahal si A dan si B telah bersahabat baik-baik saja sebelumnya. Lalu Pertanyaannya, apakah bijak kita menggadaikan kejujuran si B selama ini dengan satu kebohongan yang baru saja dilakukan si B,? (Jawablah pertanyaan ini.!)

      Sikap yang diambil si A untuk menjauhi si B adalah karena si A telah menilai bahwa berbohong itu salah dan buruk. Dan itu dilakukan secara otomatis karena ia mengikuti penilaiannya yang keluar dari perasaannya.

      Itulah pola yang dimiliki oleh Konsep Penilaian Akhir, apapun nilai yang muncul dalam suatu penilaian akhir kita terhadap sesuatu, itulah yang akan menjadi sikap kita. Kita terlalu naif kepada situasi ini jika kita menggunakan Konsep Penilaian Akhir yang hanya mengikuti perasaan kita saja, tanpa mengajak akal untuk berperan dalam situasi seperti ini.

      Dalam konsep Penilaian Akhir, akal tidak diajak serta untuk memutuskan sikap seperti apa yang harus diambil setelah mendapati penilaian terhadap keadaan tertentu. Sikap terbangun dari penilaian yang telah dibuat oleh perasaan atas tanggapan keadaan atau realita yang terjadi saat itu juga. Keputusan bersikap seperti inilah yang menjadi buah dari konsep Penilaian Akhir.

      Si A tidak mencoba membandingkan antara kejujuran si B selama ini dengan kebohongan si B yang baru saja si B lakukan, oleh karena ini adalah konsep dari Penilaian Akhir. Jadi konsep Penilaian Akhir tidak memperhitungkan kembali nilai-nilai yang dahulu pernah ada, tetapi hanya melihat kepada nilai yang terakhir, atau yang baru terjadi.

       Ini adalah wajar terjadi di kehidupan kita sehari-hari, persahabatan yang selama ini terjalin bisa rusak dengan hanya satu kejadian negatif yang memunculkan penilaian negatif. Begitupun keluarga yang selama ini harmonis bisa rusak hanya dengan satu kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga tersebut. Bahkan jalinan asmara yang selama ini romantis dengan penilaian-penilaian positifnya pun hancur karena satu keadaan yang bernilai negatif yang terjadi.

      Itu karena konsep penilaian yang ada di alam bawah sadar kita kebanyakan adalah konsep Penilaian Akhir. Konsep Penilaian akhir yang kita pelajari sedari kecil, yang dimasukan kedalam berbagai macam keyakinan dan kepercayaan yang ada diantara kita. Yang tidak memperdulikan apa yang telah kita lakukan, tetapi hanya melihat apa yang kita lakukan di akhir cerita. Hukum yang berlaku dinegara kita pun menganut Konsep Penilaian Akhir seperti yang telah dijelaskan.

      Malah hampir tidak ada hukum yang tidak menganut konsep Penilaian Akhir ini termasuk hukum akhirat yang banyak dipercaya oleh manusia didunia ini. Ironi memang.

PARADOK KONSEP PENILAIAN AKHIR, KONSEP PENILAIAN TIMBANGAN

      Disini setelah saya merefleksikan Konsep Penilaian Akhir yang kebanyakan kita menganutnya termasuk saya sebelum ini. Saya mencoba mengkonsepkan sesuatu yang paradoksal dengan konsep yang pertama, yaitu konsep Penilaian Akhir dengan Konsep Penilaian Timbangan hasil refleksi saya.

      Yah meskipun tergolong sesuatu konsep yang masih prematur, tetapi layak dicoba untuk ditawarkan kepada publik terutama untuk pembaca setia Blog “SOPHY119” , dan berharap menjadi pertimbangan dalam hal penilaian tentunya setelah mendapat kritik dan saran dari pembaca agar lebih lebih bisa bersesuaian dengan keadaan yang sedang terjadi.

      Konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep Penilaian Akhir jika dilihat dalam kacamata eksistensinya, masih dalam berbentuk sebuah konsep penilaian yang berasal dari perasaan, tetapi hanya berbeda dalam kacamata esensi, karena ada sesuatu yang akan disisipkan diantara pengungkapan perasaan psikologis dimana nilai dan penilaian itu muncul dan sikap yang diambil sebagai reaksi dari penilaian itu.

      Ya, akal budi. Saya namakan timbangan karena timbangan melambangkan sebuah alat untuk menimbang dan mengukur bahan yang ditimbang, juga sebagai alat untuk mengetahui mana yang lebih memiliki massa yang besar diantara dua bahan yang di letakkan di dua sisi yang berbeda. Begitupun akal budi yang akan menjadi timbangan antara penilaian positif dan penilaian negatif.

      Jadi setelah penilaian itu muncul, ia akan langsung masuk ke dalam penilaian penilaian yang telah ada sebelumnya untuk masuk ke dalam satu kategori yang sama dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan akan sikap yang kita lakukan. Jadi tidak secara otomatis mengambil sikap berdasarkan penilaian yang muncul saat itu juga seperti konsep Penilaian akhir.

      Penilaian yang muncul saat itu hanya akan menjadi satu penilaian saja untuk menambah penilaian yang satu kategori dengan penilaian tersebut. Tetapi untuk besar kecil dari nilai nilai itu sendiri adalah mutlak pribadi yang menentukannya. Atau mungkin bisa dianalogika penilaian itu dalam bentuk angka agar kita lebih mudah dalam membayangkannya di timbangan akal budi kita.

      Jadi seperti halnya kita bermain dengan akal budi kita sendiri yang berarti kita masuk dalam ranah pikiran dan nurani kita masing-masing. Jadi bayangkanlah didalam pikiran anda ada sebuah timbangan yang besar dengan anda yang berada di depannya sebagai nurani anda sendiri.

      Kita ambil kasus lanjutan seperti yang diawal, dengan perincian sebagai berikut : Si A bersahabat dengan si B selama 5 tahun, selama 5 tahun meraka bersahabat dekat layaknya saudara, suatu saat mereka bertemu dengan si C yang baru mereka kenal dalam satu momen yang berbeda. Dan keduanya pun jatuh hati kepada si C.

      Ternyata kedekatan si A dan si C kalah intens dengan kedekatan si B dan si C. Tetapi dalam persahabatan mereka si A lah yang dahulu mengungkapkan kepada si B bahwa ia mempunyai perasaan kepada si C, dan si B pun mendukung perasaan sabahatnya tersebut. Seiring berjalannya waktu, si A dan si C pun tak kunjung berujung dengan ikatan hubungan yang jelas. Dan malah si B dan si C lah yang menuju ke arah kesana.

      Suatu saat si C dan si  B mengikat janji dalam sebuah ikatan yang dinanti keduanya, dan    si B menyimpan kenyataan itu kepada si A untuk menghargai perasaan sahabatnya itu, tetapi waktu berkata lain. Setelah beberapa waktu, Si A tak sengaja melihat si B dan si C jalan bersama dengan mesranya layak pasangan yang sedang kasmaran. (anda mungkin tau bagaimana perasaan si A,?) Jreng-Jreng

      Pertanyaannya sikap apa yang akan anda ambil jika anda berada di posisi si A.? Bisa saya pastikan sebagian besar anda akan mengambil sikap negatif dari penilaian yang negatif yang anda buat, dan ceritanya masih berlanjut.

      Setelah si A mengetahui hubungan si B dan si C, dan si A dan si C tetap bersahabat meskipun tak terlalu dekat, terlepas apa sikap yang diambil A setelah mengetahui si B dan si C sudah ada ikatan hubungan. Si B kembali melakukan hal yang tidak diharapkan si A, si B mencuri uang si A dengan diam-diam. Anda bisa berspekulasi sikap apa yang harus anda ambil dalam hal ini.?

      Dalam Konsep Penilaian Akhir pasti si B sudah dijauhi dan dibenci oleh si A, dan itulah yang benar menurut konsep ini. Tetapi tidak untuk Konsep Penilaian Timbangan saya. Seperti yang sudah saya ilustrasikan kepada anda tadi, saya membayangkan ada sebuah timbangan besar dalam pikiran saya dengan saya sebagai nurani yang berdiri didepannya.

      Dalam situasi seperti kasus saya sebagai si A, saya telah mempunyai masa persahabatan yang baik dengan si B, dan penilaian-penilaian saya terhadapnya adalah positif semua. Dia baik, dia selalu ada saat saya susah, dia sering meminjami saya uang, dia sering mengajak saya untuk refresing ketika saya sudang penat, dia sering membantu saat saya ada tugas kuliah, dan banyak hal lainnya yang sudah dia lakukan dan itu termasuk penilaian positif saya terhadapnya.

      Jadi saya bisa membayangkannya dia sudah memiliki 100.000 nilai positif di dalam timbangan saya, dengan 1000 nilai negatif yang saya punya tentang dia karena dia sering lupa jika ada janji dengan saya. Dengan adanya 2 keadaan yang baru saja terjadi, yaitu yang pertama dia telah menghianati dan membohongi saya dengan dia jadian dengan si C, dan yang terakhir dia telah mencuri uang saya sejumlah Rp. 1.000.000 dalam rekening atm saya. Nurani saya memberi nilai negatif  1000 untuk keadaan pertama dan memberi nilai 30.000 untuk yang terakhir.

      Dari sana didapat angka 100.000 untuk nilai positif, dan angka 32.000 untuk nilai negatif, jadi hasil pengukuran timbangan akal budi saya masih menunjukan 68.000 untuk nilai positif. Maka saya memutuskan untuk tetap bersikap positif dengan si B dengan keadaan yang demikian. Tidak ada yang perlu dirubah dari sikap saya karena menurut akal budi saya masih menunjukkan penilaian positif, jadi sikap saya pun positif seperti apa penilaian saya terhadap si B.

      Dan seperti itulah konsep Penilaian Timbangan berjalan. Paradoksal jauh memang dengan Konsep Penilaian Akhir, mungkin absurd untuk anda yang memang baru mengenal konsep ini.  Ribet memang, sulit memang, bahkan konyol.

     Tetapi apa yang mendasari saya merefleksikannya adalah karena tindakan-tindakan yang kita lakukan tak terlepas dengan keadaan yang dinamis, tak tetap, tak statis. Lalu bagaimana kita menilai seseorang hanya dengan satu keadaan akhir saja, tanpa melihat keadaan-keadaan yang telah ada sebelumnya.

      Karena pada hakikatnya setiap manusia tidaklah berhak untuk menilai karena manusia tak akan menilai dengan sepenuhnya jika tidak tahu apa esensi dasar dari tindakannya itu selain melalui bentuk eksistensinya saja. Penilaian manusia tetaplah penilaian subjektif yang tak bisa menjadi pedoman untuk hukum universal.

      Jadi berilah nilai positif semampumu, dalam setiap hal yang ada. Bukan karena positif lebih unggul dari pada negatif, tetapi hanya karena akal kita semua menyetujui bahwa ketika keadaan kita sedang lapar dan kita dihadapkan antara 2 pilihan yaitu untuk makan atau tidak makan, dan sepatutnya kita memilih untuk makan. Begitupun ketika kita sedang haus, sudah sepatutnya kita minum. Begitulah cara kerja kealamian yang kita miliki. Kealamian yang diajarkan oleh alam kepada kita.

      Dan sudah sepatutnya pula kita memberikan nilai positif semampu kita kepada apapun keadaan yang sedang kita alami, walaupun anda tidak percaya kepada Entitas Tertinggi Transendendal yang disebut Tuhan, anda akan percaya kepada akal budi anda sendiri. Apalagi kepada anda yang percaya kepada Nya.

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

2 thoughts on “KONSEP PENILAIAN TIMBANGAN

  1. Konsep Penilaian Timbangan
    Menarik memang untuk membahan suatu keadaan yang memang dihadapkan pada keadilan, boleh saya sebut begitu? Karena adanya proses penimbangan suatu kejadian dengan kejadian yang lain dengan nilai yang berbeda. Tetapi yang mengganjal dibenak saya bahwa, kapan kita bisa menggunakan konsep ini? Sedangkan dalam contoh diatas alur cerita tetap berjalan. Apakah setelah si B telah benar benar berhenti untuk mengambil barang si A, atau sebaliknya? Sedangkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan.

    Like

  2. Terima kasih telah mampir di blog ini dan untuk komentar yang telah diberikan.
    Boleh saja anda menyebutnya demikian.
    Kita bisa menggunakan konsep ini kapanpun, dan untuk siapapun.
    Alur cerita memang terus berjalan, dan selama itu pula kita bisa memakai konsep ini.
    Selama akal budi kita bisa mengendalikan perasaan kita yang memang terus berubah-ubah setiap harinya, jadi kita diharapkan tidak mengambil keputusan berdasarkan perasaan semata, tetapi dengan bantuan pertimbangan akal budi yang kita miliki.
    Semoga bisa membantu.

    Liked by 1 person

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s