Posted in @Sophy119, My Post

HIDUP SEPERTI APA YANG KAU CARI,?

 sampan

Oleh : Arief Sofyan

      Setelah bangun tadi pagi saya terasa tergugah untuk menulis lagi dalam blog kesayangan saya ini. Sudah hampir 2 minggu saya tidak menulis dalam blog ini, ya saya juga belum mengetahui secara pasti apa alasan saya meninggalkan kegiatan menulis di blog ini. Yang saya pahami adalah saya sekarang merasa jauh dari jalan hidup yang telah saya pilih untuk saya jalani 2 tahun belakang ini.

      Akhir-akhir ini saya menjalani rutinitas hidup saya dengan rutinitas yang mungkin menjadi rutinitas sebagian besar manusia di bumi ini, malah pola hidup yang saya jalani  (jika saya memakai nilai pada umumnya) bernilai sangat buruk. Bagaimana tidak, hidup yang hanya menjalani lingkaran hari dari mulai bangun, makan, bermalas-malasan, menonton video, menulis di buku diari sebagai ungkapan perasaan, sedikit bersosialisasi dengan masyarakat, dan hal-hal yang mungkin bernilai negatif jika menurut pandangan umum.

      Saya tidak pernah lagi menggunakan akal saya untuk berpikir, yang pasti berpikir reflektif. Saya pun jauh dari meditasi melampaui pikiran yang termanifestasi dalam meditasi laku zen, yang salama ini menyelamatkan saya dari kegelisahan hidup saya. Saya seperti terbawa arus kembali dalam pola hidup yang tak seharusnya saya jalani.

LALU,?

      Sekarang saya sedang mencoba menarik kembali diri saya kedalam rel yang pernah saya bangun dulu, dimana saya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan reflektif yang mampu mengasah akal saya dan hanyut dalam meditasi yang dapat menenangkan ketika akal saya merasa butuh obat penawar ketika sakit.

       Ini jauh berbeda dengan hidup yang sedang dijalankan oleh sebagian dari manusia saat ini. Tujuan hidup yang pasti sudah terarah kepada kehidupan setelah kehidupan kita disini yang dinamakan sebagai kampung akhirat, syurga dan neraka.

      Bagi kalian yang percaya akan eksistensinya pasti kalian akan menolak sama sekali ingin tinggal di neraka dan memilih tinggal di dalam kampung syurga, dan menganggap dunia yang kita tinggali saat ini adalah dunia yang bermakna sebagai tempat kita mencari bekal untuk kehidupan di kampung akhirat.

      Tujuan yang sudah terpatri dalam pikiran yang telah mengafirmasi adanya kehidupan setelah kematian yang merupakan kehidupan kekal yang memang sudah menjadi kepercayaan kebanyakan dari kita sebagai manusia.

      Manusia yang serba kekurangan yang juga mengidealkan kepenuhan. Manusia yang tak sanggup menerima jika kehidupan yang sedang dijalaninya adalah kehidupan tanpa makna. Kehidupan yang tanpa tujuan dan sebenarnya jika mau jujur, kita benar-benar tidak tahu untuk apa kita hidup dalam kehidupan ini.

      Itulah realita yang ada dikehidupan yang tanpa makna ini. Kebanyakan dari kita memang tidak berani mengatakan kejujuran seperti ini. Kejujuran yang menuntut keberanian untuk hidup dalam kehidupan yang sebenarnya kacau ini. Penerimaan apa adanya, penghilangan segala makna yang telah kita asumsikan di dalam pikiran kita. Menyatu dengan realita, karena kita adalah bagian kecil dari realita itu sendiri, bukan tuan atas realita yang ada.

KEHIDUPAN BAGI SAYA

      Saya mungkin mempunyai pandangan lain untuk kehidupan ini. sedikit berbeda dengan pandangan umum yang telah beredar, tetapi saya tidak menafikkan bahwa sebagai seorang yang idealis saya juga mengidealkan sesuatu yang menurut saya lebih bisa diterima.

      Saya percaya bahwa diri saya memiliki jiwa yang mortal, yang berasal dari yang Transendental yang belum bisa saya konsepkan atau memang tak bisa terkonsepkan, saya lebih jujur mengatakannya seperti itu, dari pada mengatakan bahwa saya memiliki konsep yang Transendental sendiri.

      Saya juga percaya disaat seorang manusia itu disebut mati atau meninggal, bahwa sesungguhnya yang mati adalah tubuh manusia itu bukan jiwanya. Jadi bisa diibaratkan tubuh manusia itu adalah kendaraan bagi jiwa kita, dan jiwa kita adalah pengemudinya. (mungkin nanti akan saya jabarkan konsep jiwa menurut saya di tulisan saya yang akan datang).

      Ketika jiwa kita keluar dari tubuh kita, kita akan kembali kepada yang Transendental itu sendiri. Jika kebanyakan dari kita mempercayai setelah kematian akan ada hari pembalasan atas segala tindak-tanduk yang pernah kita lakukan di dunia ini sebagaimana yang diajarkan oleh agama-agama, saya lebih memilih percaya bahwa setelah kematian akan ada hari penjelasan atas segala tindak-tanduk yang pernah kita lakukan di dunia ini oleh yang Transendental itu sendiri.

      Jadi kehidupan kita didunia ini bagi saya adalah tidak untuk takhluk dengan kepercayaan kita yang masih belum bisa di verifikasi itu. Tetapi dengan saya berkata seperti ini, saya bukan bermaksud untuk melegitimasikan tindakan-tindakan yang berkutub negatif menurut pandangan umum. Tetapi yang ingin saya katakan adalah 3 kutub yang saling bersebrangan yaitu : benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek adalah juga label hasil konsepsi manusia.

      Jadi tidak ada yang absolut dan mutlak yang bisa mengatakan ini adalah benar selamanya, ini adalah baik selamanya, ini adalah indah selamanya. Begitupun ini adalah salah selamanya, ini adalah buruk selamanya, ini adalah jelek selamanya. Nilai adalah suatu yang sangat subjektif menurut saya. Realita yang senyatanya tak bernilai tak bisa dipisah dengan nilai yang merupakan produk konsepsi manusia.

      Pertanyaan kritis yang bisa kita tanyakan kepada diri kita setiap kita hendak melakukan sesuatu yang kita sebut sebagai tindakan kita adalah, mengapa saya harus melakukan tindakan ini,? apakah saya terima jika tindakan ini dilakukan oleh orang lain kepada saya,? Jika kita telah mantap akan jawabannya maka tindakan itu sebagai tindakan yang mengiringi setiap langkah hidup mu.

      Jadi setiap saat, setiap waktu, kita terfokuskan untuk tersadarkan dalam melakukan setiap tindakan-tindakan kita. Kita tak dihantui oleh  kenangan-kenangan masa lalu, dan kita juga lepas dari harapan-harapan masa depan untuk memutuskan tindakan kita saat ini.

      Tindakan-tindakan seperti itulah yang akan membangun kehidupan saya, kehidupan yang sadar akan hidup itu sendiri, waktu demi waktu, saat demi saat, adalah dialektika antara hasil dari reflektif pemikiran dan ketenangan jiwa yang coba saya damaikan dalam filsafat dan zen.

      Semoga tulisan ini bisa menambah pustaka dari sudut pandang dari teman-teman. Kritik dan saran sangat diterima dalam tulisan ini untuk proses dialektika diantara kita. Terima Kasih. Salam Damai.

Advertisements