Posted in My Post, Puisi, Sajak ku

Pengakuan Dosaku Pada PANCASILA

Pengakuan Dosaku pada Pancasila
Pengakuan Dosaku Pada PANCASILA

Oleh : Arief Sofyan

 

71 tahun lamanya dikau terbang

Menembus batas dari kepulauan nusantara

Sejak dikau terlahir dari sebuah pidato Sakral

Yang dibacakan oleh Ir. Soekarno sang ayahhanda

 

1 Juni adalah hari lahir mu

Yang setiap tahunnya kami peringati dengan bermacam euforia

Ada sebagian kami mengadakan seremonial upacara untuk mu

Ada juga yang melakukannya dengan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya

 

Tapi aku,

menjadikan hari ini sebagai momentum

momentum untuk merefleksikan

merefleksikan akan hadirnya dirimu

 

Telah 71 tahun dikau mengepakkan sayapmu

Menyusuri tiap hati para anak bangsa

Kau adalah lambang pemersatu kami

Bhinneka Tunggal Ika ialah kalimah suci yang kau hembuskan

Dalam setiap keberadaanmu, itulah yang kau teriakkan

 

Kau digagas oleh para pendiri bangsa

Sebagai simbol harapan yang mulia

Itu manifestasi dari sebuah cita-cita

Luhur nan suci tiada terkira

 

Namun,

Ironi… jika aku merefleksikannya saat ini

Cita-cita nan luhur yang dahulu diharapkan

Oleh segenap dan seganjil pejuang bangsa

Belum nampak wujud kecilnya

Meski sudah sekian lama

 

Mungkin tempatmu istimewa di setiap sudut ruangan kami

Citra dirimu melebihi 2 citra pemimpin kami

Pak Presiden dan Pak Wakil Presiden

Tapi tidak untuk hati kami

 

 

Karena hati kami adalah untuk pandangan kami  sendiri

 

 

Kau telah gagal merangkum kemajemukan bangsa ini

Kau pun tak menampakkan secuil harapan untuk itu

Kau gagal untuk menjadi pandangan hidup bersama bagi kami

 

Tapi, ah.. itu hanya bualanku saja

 

Kami sadar, bukan kau yang gagal

Tetapi kamilah yang gagal

Gagal untuk mendongak bersama kearahmu

Kearah kalimah suci yang selalu kau teriakkan

 

Bukan kau yang gagal merangkum kemajemukan ini

Tetapi kami yang tak sadar akannya

Kami menutup diri dan mendengar suara dari dalam

Yang itu adalah suara ego kami sendiri

 

Kami hanya mementingkan kepentingan kami sendiri

Dan mungkin juga kepentingan golongan kami sendiri

Tak sedikitpun kami berfikir untuk terbuka

Terbuka untuk kepentingan bersama dan bangsa

 

Sungguh naif jika kami masih berlaku demikian

Menyalahkanmu saat kami yang salah

Melemahkanmu saat kami yang lemah

Menghinamu saat kami yang hina

Mengkambinghitamkan mu saat kami sadar

Kamilah dalang dari kebiadaban ini

 

Hari ini

Tepat di hari lahirmu

Kami mengakui dosa kami pada mu

Dosa yang kami buat sedari kau lahir

Cita-cita luhur yang kami hianati

Kepada kami para penerus bangsa

 

Hari ini kami berikrar

Akan mencoba belajar dari sejarah yang kelam

Sejarah yang harusnya hanya menjadi sejarah

Menjadi pelajaran bagi jiwa yang sadar

Akan masa kini dan nanti yang lebih baik

 

Kami juga berikrar

Akan menerima kemajemukan yang telah niscaya

Dan menjadikanmu pandangan hidup sesuai esensinya

Bukan euforia semata, tetapi patri jiwa yang mendalam

 

Cukup 71 tahun saja kami tak acuh akan mu

Mulai hari ini, jam ini, menit ini, detik ini

Menjadi pemutus akan ketak acuhanku

Dan menjadi penyambung akan keacuhanku

 

Selamat hari lahir Pancasila ku

Semoga aku bisa mengemban amanah para penggagasmu

Menjadikan bangsa ini sentosa untuk selamanya

Terimalah haturan dosa ku

Dari anak bangsa yang mencintaimu

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s