Posted in My Post, Sajak ku

Rindu Dalam Keangkuhan

Rindu Dalam Keangkuhan.jpg

Oleh : Siti Maesaroh

 

Diantara butanya citra malam

Hati ini pedih

Merasa teriris yang menahan kerinduan padamu…

 

Pelangi wajahmu yang menghiasi langit biru dimataku…

Untaian kasihmu yang selama ini bagai bayangan membelai lembut jiwaku

Teduh dan damai diriku seandainya berada di bibir syurga kehangatanmu

 

Tapi semua hanya akan mencambuk diriku

Yang selalu mendera anganku

Semua itu tak akan pernah terasa

Jauhh…jauh…dan jauh…

 

Tiba-tiba…!!!
pelangi itu muncul

Matahari itu bersinar

Tawamu mengajakku, kehangatanmu kurasakan

 

Wajah ini berseri karna kemilau cahayamu

Dan bibir ini bak pemahat mengukur

Senyum menyongsong matahariku

 

Tapi hanya sesaat…

Sekilas tampak dalam batas pandanganku

 

Setitik mendung…

Awan menyambutnya dan bergelayu

Menina bobokkan sang surya…

Rembulan menangis…

Pelangikupun lari karna lecutanmu

Sang surya terlelap erat-erat memejamkan mata gelap…

 

Tangismu rembulan…

Kudengar menyayat meluluhkan hati

Butiran tetesmu bagai duri menghujani jiwa

 

Dingin…dingin

Mana kehangatan yang tadi kau tampakkan

Jiwaku menggigil…

Kenapa kau selimuti aku dengan air matamu

 

Oh…rembulan

Dimana matahariku…

Dimana pelangi hidupku…

 

Hariku bosan

Jiwaku lapuk

Kakiku lumpuh

Dimana kau sembunyikan dia

Dimana kau larikan sinar hidupku…

 

Mendung…

Salah siapakah semua ini

Kabutmu yang kelabu benar-benar mewakiliku

Biru langitmu melukiskan kehidupanku

Bunga dihatiku tumbuh…

 

Tapi…

Berserikah dia tanpa cahaya matahari

Yang kau luputkan dari pandang mataku…

 

Tidak…

Dia tak akan tumbuh

Dia tak akan berkembang

Dia tak akan pernah berseri

 

 

Banggakah dia tumbuh dengan dasar tanah yang kering dan tandus…

Pantaskah dia berkembang diantara senja yang merona merah…

 

Aku tak akan pernah menyesali semuanya TUHAN

Andai semua kau kembalikan

Jangan sembunyikan dia matahariku

Kehangatannya selalu menyenandungkan

Lagu rindu tuk menyelimuti jiwaku

 

Aku merindukan sentuhannya yang lembut

Aku membutuhkan perlindungannya dari duri

Yang mengiringi roda kehidupan

Yang berputar

 

Aku rindu semuanya…

Aku ingin selalu melihatnya setiap saat

Aku ingin langkahku diiringi do’anya

Dan tawa kecilnya

 

Dia matahariku…

Dia lenteraku…

Jangan temaramkan sinarnya…

 

Dia…dia…

Dialah yang selama ini kuimpikan

Dialah orangnya.

 

Dia adalah AYAHKU

Nama yang tak pernah kusebut

Selama ini dari mungilnya bibirku…

 

Oh…TUHAN…

Tunjukkan kebesaranmu

Kembalikan dia dalam hidup ini

Persatukan kami

 catatan dari seorang bocah kecil yang selalu merindukan kehangatan dan belaian seorang AYAH yang tak pernah dikenalnya, dan selalu bertanya : “Dimana dan siapa dia sebenarnya,?”

 

Advertisements
Posted in My Post, Sajak ku

Perpisahanku dengan Ramadhan

Perpisahanku dengan Ramadhan
Perpisahanku dengan Ramadhan

Oleh : Arief Sofyan

Allahu Akbar Allahu Akbar

Allahu Akbar Allahu Akbar

Bergetar hatiku mendengar suara lantang yang diteriakkan bilal

Itu adalah Suara Azan yang tak ku nantikan

Senja ini adalah senja yang tak ku inginkan

Aku duduk di atas sajadah dalam kamarku

Suara bilal itu telah memecah kesunyian yang aku rasakan

Sedari tadi aku hanya memandangi qur’an kecil yang aku pegang

Melantunkan ayat suci nan indah di dalam batin ini

Asyhadu allaa ilaaha ilallaah

Asyhadu allaa ilaaha ilallaah

Senja ini adalah senja yang membuatku tersentak

Tersentak menyadarkanku dalam refleksi ujung bulan ini

Refleksi yang baru aku lakukan pada hari ini

Hari ini adalah hari terakhir ku di bulan Ramadhan

Asyhadu anna muhammadar rasulullaah

Asyhadu anna muhammadar rasulullaah

Ya, Ramadhan akan pergi setelah selesainya Azan ini

Ramadhan akan meninggalkanku dalam kesendirian ini

Meski aku tahu, ia akan kembali lagi

Namun tak tahu, apakah bisa aku menjumpainya lagi

Hayya’alash shalaah

Hayya’alash shalaah

30 hari sudah aku lalui bersama dengan bulan ini

Bulan yang mulia nan suci dengan segala kemuliaannya

Rahmat, Hidayah dan Ampunan yang berlipat dibulan ini

Seolah aku enggan membiarkan suara bilal itu menyelesaikan azannya.

Hayya’alal falaah

Hayya’alal falaah

Merayakan kemangan?

Aku tak mau merayakan kemenangan dengan berpisah dengan Ramadhan

Biarlah aku berada pada bulan suci ini untuk selamanya

Tak apa jika aku harus melawan hawa nafsuku selamanya

Berpuasa selamanya tidak menjadi soal untuk ku.

Allahu Akbar Allahu Akbar

Allah memang Maha besar

Dan Ia pasti bisa mengabulkan pintaku yang sederhana ini

Jangan pisahkan aku dengan Bulan Ramadhan Mu ini ya Rabb

Biarlah aku disini bersamanya untuk selamanya.

Laailaahailallaah

Itu adalah kalimah trakhir dari bilal

Bergetar kembali hatiku mendengarnya

Tak terasa sembari mengucap “laailaahailallaah”

Air mataku menetes jatuh ke qur’an kecilku ini

Untuk sesaat aku merasakan keheningan yang damai

Menikmati perpisahan yang menyakitkan ini

Tak terasa pipiku telah basah oleh air mata ini

Hidungkupun ikut merasakan penyakit pilek yang datang tiba-tiba

Ku basuh pipiku dengan tangan untuk menguatkan diri ini

Mencoba menerima kenyataan bahwa aku tak bisa

Tak bisa menahan Ramadhan untuk tetap menemaniku

Menemaniku dalam kesendirian ini

Tiba-tiba.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Suara Takbir

Laa ilaa ha illa allahu wa Allahu Akbar

Suara Tahlil

Allahu Akbar wa lillaahilhamd

Suara Tahmid

Hatiku kembali bergetar

Mendengar rangkaian lantunan takbir, tahlil, dan tahmid bilal itu

Kesedihan ini pun tak terbendung lagi

Air mata yang telah kuhapus, kini keluar kembali

Mengeluarkan debit air yang lebih banyak lagi

Ku cium sajadah, ku tempelkan dahiku

Aku bersujud seraya bedo’a :

“Kuatkan hamba ya Rabb

Atas perpisahan yang memilukan hati ini

Semoga engkau masih memberikan kesempatan kepada hamba

Untuk bertemu lagi dengan bulan Ramadhan Mu ini

 

Semoga hamba tidak akan lupa akan pelajaran

Pelajaran berharga yang diberikan oleh bulan Mu ini

Hawa nafsu yang sejatinya hamba punya

Bisa dan dapat dikendalikan asal hamba mau mengendalikannya

 

1 bulan yang hanya untuk latihan

Latihan mengendalikan hawa nafsu

Ujian sebenarnya adalah pada 11 bulan kedepan

 

Apa aku bisa menyempatkan diri untuk berpuasa.?

Apa aku bisa hadir dalam panggilan ke Masjid Mu,?

Apa aku bisa terus untuk bersedekah,?

Apa aku masih sempat untuk bangun di malam hari

Untuk sekedar bercumbu dengan Mu,?

 

Ketaatan yang aku tunjukan selama satu bulan ini

Apakah akan bertahan sebelas bulan kemudian,?

Ataukah aku hanya memanfaatkan lipatan ganjaran Mu saja

Dalam melaksanakan ketaatanku selama ini,?

Astagfirullahaladzim

 

Semoga aku bisa beristiqomah hingga akhir hayatku

Hingga aku bertemu dengan Mu di Syurga nanti

 

Jika ini adalah do’a terakhirku

Jadikanlah do’a ini sebagai do’a terbaik untuk ku

Hamba ikhlas melepas Ramadhan bersamaan dengan Takbir ini

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaa ha illa allahu wa Allahu Akbar

Allahu Akbar wa lillaahilhamd”

Sajak ini aku persembahkan untuk seluruh umat Islam yang sedang berduka atas keberpisahannya dengan bulan Ramadhan 1437 H.

Semoga para saudaraku bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun depan. Aamiin.