Posted in @Sophy119, My Post

Refleksi Menulis


Oleh : Arief Sofyan
 
Selamat  pagi, salam damai untuk kita semua. Sudah lama saya tidak menegur para pembaca setia blog Sophy119’s dengan tulisan saya. Sudah lama pula saya tidak menyibukkan tangan saya untuk mengetikkan apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan di blog ini. Bak kehilangan pekerjaan yang mulia ketika saya tidak menulis di blog ini.
Kenapa saya bilang seperti itu,? Ya karena saya telah meninggalkan pekerjaan untuk mengabadikan diri ini, karena seperti halnya tulisan saya yang lalu (lihat disini), jadi sudah lama sejak tulisan saya yang terakhir (tidak termasuk quote yang kemarin saya posting ini (lihat disini)) saya meninggalkan perkerjaan mulia ini.
Kemarin sore, saya mendapatkan notifikasi dari wordpress yang berisi seperti ini :


 
Saya pun sejenak termenung sebab notifikasi itu. Satu tahun. Tepat satu tahun lamanya saya memutuskan untuk membuat akun wordpress dan mulai menulis di blog ini. satu tahun lamanya juga blog ini telah menyimpan beberapa reflektif pemikiran dan sajak ungkapan perasaan saya, ditambah dengan beberapa quote dan tulisan lain dari rekan-rekan saya.
Setelah itu saya membaca tulisan pertama saya (lihat disini) dan tulisan terakhir saya (lihat disini). Saya seperti tercampuk dengan itu semua. Ditambah dengan tulisan saya tentang menulis adalah bekerja untuk keabadian (lihat disini). Saya merasa belum bekerja maksimal dalam dunia kepenulisan ini.
Belum ada karya-karya hebat yang saya hasilkan dari tulisan-tulisan saya. Hanya beberapa curahan pikiran dan perasaan yang mungkin juga anak kecil pun bisa membuatnya, bahkan lebih baik lagi dari tulisan saya.
Sangat disayangkan memang, selama satu tahun ini saya masih terkurung dalam pasang surut mood  dalam menulis. Yang seharusnya itu tidak boleh terjadi lagi mengingat masa satu tahun yang telah saya lewati.
Seharusnya, dengan masa yang panjang itu saya sudah menghasilkan karya-karya yang lebih matang dan lebih hebat. Banyak waktu yang tebuang sia-sia karena meninggalkan pekerjaan mulia ini.
Tapi, cukup sudah untuk mengutuk diri sendiri, cukup untuk menyesali keadaan yang telah terjadi. Lebih lah bijak untuk memanfaatkan momentum ini sebagai refleksi akan menulis itu sendiri. Apa tujuan saya menulis,?
Momentum ini adalah remainder untuk saya pribadi agar selalu ingat tujuan menulis saya ini. Keabadian adalah tujuan saya. Berdiri di barisan para penulis hebat adalah mimpi saya. Menghasilkan karya–karya yang bermanfaat dan menjadi pustaka untuk pengetahuan masa depan adalah anak-anak dari mimpi saya. Dan itu tidak akan terjadi jika saya tidak terus menulis.
Belajar dan bekerja menulis, 2 hal yang bisa dilakukan secara bersamaan, lebihlah bijak untuk meluangkan waktu dalam dunia kepenulisan ini dari pada membuang waktu yang berharga ini dan tak mungkin terulang ini dalam hal-hal yang sia-sia.
Semoga dengan momentum ini mood ombak saya bisa hilang dan terganti dengan mood booster yang tak kunjung habis akan bahan bakarnya.
Salam damai dari seorang yang bukan penulis yang belajar untuk menjadi seorang penulis.

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

14 thoughts on “Refleksi Menulis

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s