Posted in @Sophy119, My Post

Rasionalis Dialektis

​Selamat siang, salam damai untuk kita semua.  Ini adalah selayang pandang tentang mazhab Rasionalis Dialektis yang menjadi mazhab berfikirku. Mungkin ini menjadi kali pertamaku memperkenalkan mazhab ini kepada dunia. 

Rasionalis Dialektis

Kewajiban pertama ku sebagai manusia adalah berfikir secara radikal, analitis, sistematis dan logis yang terangkum dalam berfikir secara filosofis.

Berfikir secara radikal artinya berfikir sampai ke akar-akarnya. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Maksud dari berfikir sampai keakar-akarnya adalah berfikir sampai pada hakikat, esensi atau sampai pada substansi yang dipikirkan.

Berfikir secara analitis artinya berfikir untuk memisahkan dari keseluruhan menjadi bagian-bagian. Analisis berasal dari bahasa Inggris analysis berasal dari leksem bahasa Yunani analyein berarti melonggarkan atau memisahkan. Maksud dari berfikir untuk memisahkan dari keseluruhan menjadi bagian-bagian adalah menguraikan ungkapan yang rumit kedalam bentuk yang lebih sederhana atau yang lebih mudah untuk bisa dipahami.

Berfikir secara sistematis artinya berfikir secara beruntun / berurutan. Berfikir secara sistematis adalah berfikir dengan cara menguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya. Berfikir secara logis artinya proses berfikir menggunakan logika, rasional dan masuk akal.

Filsafat adalah kepercayaanku.

Satu-satunya yang aku percayai adalah filsafat, karena dalam filsafat membuka seluas-luasnya penyelidikan atas dasar keragu-raguan. Dalam filsafat tidak ada kemantapan, yang ada adalah perubahan, perubahan itu adalah kemantapan dalam filsafat.

Sebagai kepercayaan yang dimulai dari keraguan adalah suatu hal bijak jika dibandingkan dengan suatu kepercayaan yang dimulai dengan suatu kepercayaan itu sendiri. Kepercayaan yang membuka seluasnya keragu-raguan akan dirinya sendiri dan selalu mendekonturksikan kepercayaan itu sendiri adalah semangat kemajuan yang hanya dipunya oleh ilmu pengetahuan.

Filsafat mengajarkan kepada ku untuk selalu terbuka menerima pandangan apapun sekaligus menjadi kritis dihadapan cara pandang apapun termasuk cara pandang ku sendiri, agar aku tidak terjebak dalam prinsip yang mengatasnamakan konsistensi prinsip yang akan selalu berdiri diatas kepercayaan atau cara pandang tertentu. Inkonsistensi adalah kebijaksanaan tertinggi dalam bertindak dan berfikir sesuai keadaan.  

Pertanyaan adalah agamaku. 

Agama adalah cara pandang seseorang untuk menanggapi gejala-gejala yang dialami oleh dunia pengalaman manusia di dalam realitas. Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/pemerintah dari kehidupan.

Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan/ atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai.

Pertanyaan adalah sebuah ekspresi keingintahuan seseorang akan sebuah informasi yang dituangkan dalam sebuah kalimat tanya. Ketika kita berfikir, pertanyaan muncul. Ia lalu dirumuskan dalam bentuk bahasa. Pikiran dan bahasa adalah bahan mentah untuk melahirkan semua bentuk pertanyaan. Saat kita tidak berfikir, pertanyaan tidak akan muncul.

Dari pertanyaan inilah timbul rasa keinginan untuk mencari sebuah jawaban melalui proses perenungan yang panjang dan mungkin tiada akhir karena dalam setiap jawaban yang diberikan akan selalu menimbulkan pertanyaan kembali sebagai kritik oto kritik terhadap jawaban atau pernyataan yang telah dihasilkan dalam proses perenungan itu.

Ini mengajarkan kita agar kita dituntut untuk selalu belajar dan selalu belajar, bertanya dan selalu bertanya, karena selama masih ada akal budi, kita akan menghilangkan keesensian dari manusia yang kita punya yang itu berarti membuat kita bukan layaknya menjadi manusia.

Keraguan adalah dasarku

Keraguan adalah rasa ketidak percayaan terhadap segala gejala yang nampak dalam realitas, keraguan meliputi keraguan teoritis maupun keraguan praktis.

Keraguan teoritis adalah ketidak percayaan terhadap semua teori ataupun jawaban yang diberikan untuk semua pertanyaan. Keraguan praktis adalah ketidak percayaan terhadap semua empiris atau pengalaman yang dialami oleh indra.

Satu-satunya pernyataan awal dari dasarku adalah Keraguan harus ditempatkan di dalam apapun, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, dan kepada siapapun termasuk kepada keraguaan itu sendiri. Sifat keraguan akan menimbulkan kajian yang mendalam untuk mencari kebenaran didalam sesuatu.

Tidak ada kebenaran yang tidak bisa diragukan. Tidak ada kebaikan yang tidak bisa diragukan. Dan tidak ada keindahan yang tidak bisa diragukan. Semua jatuh dalam keraguan termasuk keraguaan itu sendiri.

Rasio adalah titik ukurku.

Rasio atau akal budi adalah titik ukurku terhadap suatu ilmu pengetahuan. Pemikiran logis adalah ciri orang yang mendasarkan titik ukurnya dengan rasio atau akal budi. Jadi yang disebut sebuah pengetahuan adalah sesuatu yang berasal dan telah lolos dari uji rasio yang logis.

Setiap perjalanan mempunyai awal, begitupun yang melandasi dasar keraguanku. Dasar dari dasar yang merupakan keraguan adalah rasio ku. Aku memilih rasio karena sejatinya hanya rasiolah yang bisa menjadi alat pemersatu untuk keberagaman manusia. Kepercayaan selain kepercayaan kepada rasio tidak bisa dipakai sebagai tolak ukur yang universal karena selain rasio tidak ada kepercayaan yang bersifat universal itu sendiri.

Setiap manusia pasti memiliki rasio, setiap manusia pasti berfikir secara logis. Itulah dorongan universal yang dapat menjadi pemersatu kepercayaan yang beragam itu. Maka jika memang mencari sesuatu yang bisa memberikan sebuah asa dalam pemersatu keberagaman kita, rasio adalah pilihan pamungkas untuk jawabannya.
Walau memang isi dari rasio kita beragam, itu memang terpengaruh dari empirisme yang telah kita dapatkan sejak awal kita membuka kran pengetahuan melewati indra kita untuk masuk kedalam rasio kita masing-masing. Itu semua bisa di seragamkan jika kita mau untuk terbuka dan saling menerima postulat awal kita, yaitu kepercayaan kepada rasio sebagai titik ukur awal kita.

Dialektika adalah metodeku.

Dialektika adalah interaksi sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dialektika akan melahirkan sebuah pengetahuan baru seperti dialektika “tesis-antitesis-sintesis”. Dalam dialektika inilah sebuah pengetahuan muncul, mulai dari tesis yang telah ada dimunculkanlah antitesis yang akan menguji keberadaan tesis yang telah mendahuluinya dan dari hubungan antara tesis dan antitesis ini akan menimbulkan sintesis antara keduanya yang selanjutnya akan menjadi tesis baru dan begitu seterusnya seperti putaran siklus abadi penghasil ilmu pengetahuan.

Dialektika juga bisa diartikan sebagai dialog antar sesama manusia yang merupakan arena perang sebuah argumen. Dan setiap arena perang akan berbeda kapasitas dan keadaannya, tidak terpaku pada satu lawan satu, namun bisa menjadi satu lawan banyak (lebih dari satu) dan bisa juga banyak lawan banyak.

Argumen disini ibarat seorang prajurit di medan laga. Dalam setiap arena perang dialektika akan ada hasil layaknya sebuah perang di dalam kehidupan manusia, probalilitasnya hanya ada 2, yaitu pertama menang dan yang kedua kalah. Jika salah satu diantara kedua prajurit atau kelompok prajurit mati yang menandakan kematian argumen itulah pihak yang kalah, dan disisi lain prajurit atau kelompok prajurit yang bertahan hidup menandakan kebertahanan argumen di dalam arena perang dialektika yang disebut pihak yang menang.

Seperti halnya peperangan yang dilakukan oleh manusia berperang dalam sebuah arena perang dialektika juga mempunyai tujuan yaitu pengakuan terhadap pihak yang telah kalah dalam sebuah arena perang kepada pihak yang memenangkan perang. Prajurit manapun yang terkuat akan menjadi pemenang dalam perang ini, dan pemenang dalam perang ini akan menjadi penguasa dan tolak ukur akan suatu standar dari nilai yang diperlukan.

Kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah hasil dari standar yang dikeluarkan oleh penguasa yang berkuasa. Maka diatas semua itu haruslah penguasa yang memenangkan sebuah peperangan adalah penguasa yang tak hanya kuat tetapi juga harus memiliki jubah kebijaksanaan untuk menentukan standar nilai yang akan dipakai disaat ia berkuasa.

Standar itu akan berlaku dari, saat, hingga ia berkuasa sampai dengan adanya lawan yang akan menantang kekuasaannya dengan mengajaknya ke arena perang kembali, dan begitulah siklus seterusnya. Itu adalah sebuah analogi dialektika yang menjadi metodeku untuk menentukan standar nilai dari suatu kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s