Posted in My Post

Kutempuh Keyakinan Dalam Menjalani Hidup Baru

 

               Kubuka lagi lembar-lembar buku baru dalam menempuh hidup baru bersama dia, sejarah telah berkata dan takdir telah menggariskan bahwa akhirnya dialah pria pilihan TUHAN untuk mendampingi hidupku. Seorang sahabat yang nyatanya mampu menggugah perasaan jiwa ini, walaupun nyatanya semua itu dibarengi oleh persitiwa unik akhirnya kami bersatu juga dalam bahtera kehidupan ini.

 

                Orang tuaku memilih dia, dan meyakinkan dialah orang terbaik bagi kehidupan di masa depan ku nanti, hari demi hari perasaan ini terbuka dan akhirnya kuterima dia dalam hari-hari depanku. Kuterima dia dengan apa adanya, aku yakin TUHAN akan memberikan jodoh yang terbaik bagi umat-Nya yang dianggap baik dimata-NYA.

 

                Hari selanjutnya dapat kurasakan akan arti dari dirinya sebagai suamiku, kehadirannya dalam hidupku membuka mata hatiku untuk melihat arti kehidupan ini yang sebenarnya. Aku masih dapat merasakan betapa bahagianya diriku saat hari pernikahanku, namun tak dapat kesembunyikan dibalik kebahagiaan bagian dari perasaan hatiku tersentuh oleh keadaan orang yang paling aku kasihi, pada detik-detik saat itu dialah orang yang paling menderita. Namun sekuat ketabahan iman dalam dada ku coba jalani semua dengan kepasrahan.

 

Dia suamiku.,,

               Kuakui aku sangat menyayangi dirinya, saat ini dialah pendamping, pelindung, dan pemimpin kehidupan diriku. Akupun dapat merasakan betapa dia sangat mengasihi diriku. Kami bersatu dalam kasih sayang dan bersama dalam kepercayaan. Tali cinta kami telah mengikat hati dan jiwa kami menjadi satu keutuhan rumah tangga.

 

                Semoga kebersamaan ini akan membuahkan kebahagiaan selamanya, diiringi do’a kebersyukuran kami panjatkan atas di karuniani kami cinta dan kasih kami yang tulus suci.

 

Ya TUHAN… berkahi rumah tangga kami dengan rahmat dan cahaya kebesaran Mu agar abadi selamanya…. AAMIIN

 

Kamis, 9 April 1992

Kamis, PON-WAGE 5 syawal 1412 H

 

Ini adalah setitik goresan tinta ibuku yang juga sempat menjadikan menulis tempat untuk mencurahkan isi pikirannya. Yah walaupun penuh dengan sentimental perasaan, setidaknya disini saya belajar dari pengalaman sejarah dari orang tua saya.

 

Saya semakin bangga memiliki ibu seperti beliau, dengan perjalanan hidup yang tidak mulus, harus merelakan orang yang sungguh dicintainya. Satu pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah perjalanan cintanya adalah :

 

“Belajar mencintai seseorang yang bersama kita lebihlah bijak, dibandingkan harus memaksakan kehendak kebersamaan dengan orang yang kita cintai. Kerelaan dan Keikhlasan menerima setiap takdir dari Tuhan adalah bentuk pengabdian suci kepada sang Pencipta”

Advertisements

Author:

Think Clearly, Create Freely, Love Deeply

Komentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s