Posted in @Sophy119, My Post, Sajak ku

Paradoks Yang Paradoksal

Untuk saudaraku.

Kata orang,

Aku si bisu yang banyak berbicara dengan seorang tuli.

Aku si tuli yang banyak mendengar dari seorang bisu.

Aku si buta yang terlalu banyak melihat realita yang telanjang.

Aku orang bodoh yang terlalu banyak belajar dari orang gila.

Aku yang mereka katakan gila memanglah telah gila.

Aku yang mereka katakan mabuk memanglah telah mabuk.

Aku yang mereka katakan bejat memanglah telah bejat.

Aku memanglah aku yang terlihat juga aku yang tak terlihat oleh mereka.

Biarkan mereka mengaku waras walau mereka telah gila.

Biarkan mereka mengaku sadar walau mereka telah mabuk.

Biarkan mereka mengaku orang yang paling bermoral walau ia adalah orang terbejat.

Biarkanlah mereka dengan segala macam pengakuannya yang tak terakui.

Biar pun begitu,

Aku tetaplah tuan bagi diriku sendiri.

Aku tetaplah kesadaran bagi segala kehendakku.

Aku tetaplah pemilik sejati dari segala angan dan citaku.

Aku tetaplah penguasa untuk segala kuasa di dalam diriku.

Saudaraku,

Begitulah dunia ini menganggap ku sebagaimana anggapan mereka.

Beginilah manusia manusia seperti kita terlihat oleh mereka.

Jangan kau terkejut nanti setelah kau merasakannya sendiri.

Aku disini sebisa mungkin memberimu sebuah pelajaran sebelum kau berada disini.

Dunia tempat ku tinggal sekarang adalah dunia yang paradoksal.

Sangat paradoksal dengan dunia tempat tinggal kita saudaraku.

Dimana kealamian hidup dianggap sebagai anomali hidup untuk mereka.

Dan anomali hidup dianggap sebagai kealamian hidup.

Apa yang mereka teriakkan sebagai kebenaran adalah sebuah kesalahan yang malu malu.

Juga apa yang mereka katakan sebagai kebaikan adalah suatu keburukan yang sangat naif.

Kebenaran dan kebaikan sangatlah sulit di temukan di sini saudaraku.

Bahkan serpihan kecilnya pun belum mereka punyai.

Disini,

Yang berkuasa telah lupa akan segala kewajiban dan tanggungjawabnya nya.

Yang papa pun telah menjadi malas lagi tak acuh dengan hak-hak nya.

Ia yang bersumpah dengan mudahnya melanggar bahkan mendustasinya.

Ia yang diberi amanah telah ingkar bahkan menghianatinya.

Disini juga saudaraku,

Yang bisu terlalu banyak berbicara kata-kata tak bermakna.

Yang tuli dipaksa untuk mendengar suara yang tak bertuan.

Sedang yang buta terlalu diandalkan menjadi saksi-saksi ahli di altar suci pengadilan.

Sedang yang bodoh terlalu banyak yang menjadi pengajar.

Dunia yang kacau ini, mereka sebut sebagai dunia yang modern.

Mereka mengaku telah mencapai evolusi puncak spesies mereka.

Bahkan mereka mengklaim bahwa mereka adalah subjek dari alam semesta.

Dengarlah ironi yang sungguh ironi ini saudaraku.

Mereka seakan sudah tahu masa depan mereka sendiri.

Mereka bisa mengaturnya sebagaimana mereka kehendaki.

Mereka bahkan merenggut singgasana Tuhan di atas sana.

Menelantarkannya sebagai Tuhan papa yang terkucilkan.

Lihatlah saudaraku,

Betapa mereka telah berlaku kurang ajar bahkan kepada Tuhan.

Tuhan yang mereka puja sepanjang waktu, pada saat yang sama mereka ludahi ke kesucian Nya.

Mereka dengan bangga menjadi pembelanya, tanpa sadar mereka jualah yang memusuhi Nya.

Mereka yang khusuk dihadapan Nya, mereka jualah yang tak mengacuhkan Nya dengan sembrono.

Masih banyak yang ingin aku ceritakan tentang dunia ini kepada mu saudaraku.

Kata-kataku tak kan habis hanya untuk menjelaskannya kepadamu.

Tetapi tinta pena ini yang tak mengijinkan aku menulis kan nya untuk mu.

Ku harap aku tak mengecewakanmu.

Aku berjanji akan melanjutkannya di lain waktu.

Salam dari saudara mu

Arief Sofyan

Jakarta, 21 September 2017. Pukul 06:06 WIB.

Advertisements
Posted in My Post

Surat Untuk Saudara Tiri Ku

Adalah suatu hal yang “aneh” jika aku tidak melakukan hal – hal yang “aneh” di dalam kehidupanku ini, saudaraku.

Aku tidak tahu mengapa aku di sebut “aneh”, apa semua tindakanku ini berada pada masa yang tak tepat, terlalu dini, atau terlambat?

Yang aku tahu adalah sebuah pergolakan dalam keterasingan, apakah kau mengerti ini saudaraku?

Aku merasa asing dengan zaman ini, atau zaman ini yang mengasingkan ku?

Aku bukan lah anak zaman ini, atau zaman ini bukan ibu kandungku?

Aku hanya anak tiri zaman, atau zaman ini ibu tiriku?

Sentuhan dialektika ku dengan zaman ini pastilah tidak akan cocok dengan kulit kulit anak zaman kini, termasuk kau saudaraku.

Suaraku tidaklah terdengar oleh telinga anak kandung zaman ini, termasuk oleh telingamu saudaraku.

Aku tidak tahu, apa suara ini terlalu kecil dan membisik, atau terlalu keras nan memekik, hingga tak terdengar seperti suara si bisu oleh telinga si tuli.

Aku merasa seolah aku adalah anak anak, atau aku merasa seolah aku adalah seorang dewasa yang terlalu tua.

Pintu kelahiranku belumlah terbuka, tetapi pintu kematianku telah menyambut ku dengan hangat.

Aku sering menyenandungkan lagu yang tak di mengerti zaman ini, juga oleh mu saudaraku.

Mungkin ini adalah lagu paling awal yang telah tercipta, atau lagu paling akhir yang akan tercipta?

Aku tidak tahu harus kepada siapa aku keluhkan keadaanku kini, kepada mereka yang belum lahir, atau kepada mereka yang telah berbaring di liang lahatnya saudaraku?

Aku adalah makhluk ciptaan Tuhan yang jauh disana, atau aku adalah Tuhan itu sendiri yang menjauh dari makhluk ciptaan ku?

Aku pun hanya bisa mendengar percakapan manusia lain, tanpa mengerti apa yang sedang dibicarakan.

Aku juga hendak menyela pembicaraan mereka, tanpa aku tahu apa yang hendak aku katakan.

Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menjalani hidup di zaman kuno atau modern ini saudaraku?

Aku sudah muak dengan keadaan zaman yang aneh ini, atau zaman ini yang muak dengan keanehanku.

Untuk kalian saudaraku, anak-anak kandung dari zaman ini yang membaca tulisan ini, anak kandung dari ibu tiriku, aku mengundang kalian singgah ke dalam zaman ku, bertemu dengan ibu kandungku, ntah melalui sosok anak kecil atau seorang tua yang renta, kalian akan aku sambut dengan hangat.

Tamparan keras pada pikiran – pikiran yang rusak adalah cara zaman kami menyambut dengan suka cita tamu yang kami hormati.

Aku menunggu, menunggu balasan surat ku ini. Aku harap kau sudi untuk berkunjung saudaraku.

Salam dari saudara tirimu,

Arief Sofyan

Jakarta, 9 September 2017 (Pukul : 04.04)