Posted in @Sophy119, My Post

Nasehat APRIL

Apa yang benar-benar kita inginkan terjadi untuk hidup kita ini?

Apa yang benar-benar kita tidak inginkan terjadi pada hidup kita ini?

 

2 Pertanyaan dasar ini bisa merefleksikan pemahaman akan segala kecintaan dan kebencian yang berlebihan kita.

 

Berharaplah secukupnya akan segala sesuatu yang kita inginkan untuk hidup kita.

Menghindarlah seperlunya untuk segala sesuatu yang tidak kita inginkan untuk hidup kita.

 

Karena hidup tidak berjalan seperti halnya keinginan kita.

Bagaimana kalo hidup itu berjalan justru seperti apa yang tidak kita inginkan.

 

Karenanya dalam menjalani kehidupan, seseorang yang terjebak dalam pengharapan berebihan dan juga penghindaran berlebihan, akan rusak jiwanya, sakit pikirannya, dan tak tenang budinya.

 

Alam sudah mengajarkan kepada kita  bagaimana cara hidup.

 

Tidak perlu sibuk menjadi katalisator akan realitas yang apa adanya,

Yang selalu menjadikan itu sebagai dualitas realitas yang mengikuti semua keinginan kita.

 

Alam mengajarkan sesuatu yang sungguh sekali berbeda,

Penghapusan segala label yang melekat yang ada dalam pikiran kita untuk realitas, dan menerima apa adanya realitas yang menabrak kita.

 

Keniscayaan apa yang sungguh menjadi keniscayaan, kecuali ke takniscayaan itu sendiri.

Kepastian apa yang sungguh menjadi kepastian, kecuali ke takpastian itu sendiri.

 

Jika selama ini pikiran dan dogma selalu membelah realitas dengan kejamnya.

Perlakukanlah hal yang sama dengan pikiran dan dogma itu sendiri.

Dan kau akan merasakan betapa lemah pikiran dan dogma yang selama ini berlindung di balik pisaunya itu.

 

Disinilah kita belajar, bahwa bukan karena kita sedang membawa pisau, kita tidak mempan untuk di tikam pisau itu sendiri.

 

Begitulah kehidupan kita berjalan, selalu membelah dengan kejam realitas yang apa adanya ini menjadi dualitas realitas yang sama sekali tidak perlu, dan sungguh naif perbuatan itu.

 

Sejatinya kehidupan ini adalah paket yang kita terima dari kuasa di luar kuasa kita yang ter’entitas itu, sejauh yang aku pahami.

 

Dan sejauh yang aku pahami juga, bahwa pemahaman kita akan yang ter’entitas itu pun tidak benar-benar mutlak dan final, karena mustahil ada kuasa kecil bernama manusia yang mampu memahami kuasa di atas segala kuasa yang ada di semesta ini.

 

Teori probabilitas yang baik pun tidak akan berlaku untuknya walau hanya memberi perbandingan 1 berbanding tak terhingga.

 

Jalanilah hidup ini sebagaimana dirimu memahaminya, lakukanlah segala sesuatu yang kau ingin lakukan selama kau pun ingin diberlakukan seperti itu dengan selainmu. Dan jangan kau lakukan sesuatu yang kau pun tak mau diberlakukan seperti itu dengan selainmu. Ini adalah aksioma sederhana yang bisa menjadi prinsil moral kita.

 

Tak perlulah ideologi pikiran atau dogma agama untuk menjelaskan aksioma sederhana ini. Kesederhanaan aksioma ini memang tidak masuk dalam domain kesulitan dan ketaksederhanaan ideologi pikiran maupun dogma agama.

 

Jadi jika pun ada ideologi pikiran atau dogma agama yang paradoksal  dengan aksioma ini, kau tahu harus bagaimana,?

 

Ini adalah sedikit tulisanku yang mengajak kita semua untuk berrefleksi sejenak untuk mengawali bulan April ini.

 

Salam Damai untuk segala makhluk.

 

Arief Sofyan

Bandar Lampung, 1 April 2017

Posted in @Sophy119, My Post, Puisi, Sajak ku

Merelakan Mu

Oleh : Arief Sofyan

Apa sudah tidak ada lagi secercah harapan?
Yang bisa kau berikan kepada ku duhai kekasih pujaan!
Walau aku ingin sekali bersamamu duhai kasih
Keinginan itu yang sekarang membuatku semakin perih

Sebuah keputusan besar sudah kau ambil
Yang kini tinggallah aku sendiri menggigil
Ditengah kesepian yang menemani diri
Tidak ada kehangatan yang dapat ku rasa kini

Meninggalkanku adalah jalan yang kau pilih
Bersamanya menghabiskan masa yang akan datang
Tidak kah kau sedikit mendengar suara lirih
Di dalam jiwaku yang malang

Walau aku sangat mencintaimu
Mungkin sudah saatnya aku merelakanmu
Untuk bahagia bersama dengan dirinya
Tanpa ada aku diantara kalian berdua

Bukan untuk meninggalkanmu
Bukan pula untuk menghapus cintaku
Apalagi untuk hapus kenangan di antara kita
Tapi untuk memastikan, bahwa aku menghargai dia

Dia, bahu sandaranmu saat kau dalam kelelahan
Dia, penghapus air matamu saat kau bersedih
Dia, pelingdungmu saat kau perlukan
Dia, sang nahkoda bahtera rumah tangga mu

Kini,
Kerelaan ku lah yang membuatku tetap kuat
Cinta tulus ku lah yang membuatku tetap tegar
Menyerahkan semuanya kepada sang Kuasa

Kututup catatan cinta ku untuk mu
Ku simpan rapi dalam memoriku
Aku harus tetap melanjutkan hidupku
Karena aku telah merelakanmu

Bandar Lampung (27 Maret 2017)