Posted in @Pak Reza, @Sophy119, My Post

Identitas itu Ilusi

lampu

Oleh Bapak Reza A.A Wattimena

Ditulis kembali oleh Sophy119

Begitu banyak konflik terjadi dengan latar belakang perbedaan identitas. Perbedaan ras, suku, agama dan pemikiran dijadikan pembenaran untuk menyerang dan menaklukan kelompok lain. Darah bertumpahan, akibat konflik identitas semacam ini. Lingkaran kekerasan yang semakin memperbesar kebencian dan dendam pun terus berputar, tanpa henti.

Namun, kita sebagai manusia nyaris tak pernah belajar dari beragam konflik berdarah ini. Sampai sekarang, kita masih menyaksikan perang di berbagai tempat, akibat perbedaan identitas. Ketegangan antara ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dengan negara-negara di sekitarnya memuncak pada jatuhnya banyak korban tak bersalah. Amerika Serikat masih merasa sebagai satu-satunya negara yang memiliki identitas khusus, sehingga berhak melakukan apapun di dunia, tanpa ada yang bisa melarang.

Indonesia juga memiliki sejarah panjang terkait dengan konflik karena perbedaan identitas. Konflik Sampit sampai dengan tawuran pelajar terjadi, akibat perbedaan identitas. Pasangan yang saling mencintai terpisah, karena perbedaan identitas. Orang tak boleh bekerja di pemerintahan, karena identitasnya berbeda dengan identitas mayoritas.

Diskriminasi pun juga lahir, karena pemahaman yang salah tentang identitas. Kebijakan Apartheid di Afrika Selatan yang memisahkan orang berkulit hitam dan putih masih segar di ingatan kita. Jejak-jejak dari kebijakan tersebut masih bisa dirasakan di banyak negara. Perlakuan istimewa masih diberikan kepada orang-orang berkulit putih di berbagai negara, tanpa dasar yang masuk akal.

Mengapa perbedaan identitas begitu mudah dipelintir untuk membenarkan tindak kejahatan tertentu? Apa itu sebenarnya identitas? Adakah sesungguhnya yang disebut dengan identitas? Ataukah kita hanya saling konflik satu sama lain, tanpa alasan yang jelas?

Identitas dan Kemelakatan

Identitas adalah label sosial yang ditempelkan kepada kita, karena kita menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu. Ada beragam bentuk identitas yang berpijak pada kelompok tertentu, mulai dari ras, agama, suku, negara, aliran pemikiran sampai dengan gender. Kita menerima identitas kita dari tempat dan kelompok, dimana kita lahir. Identitas itu berubah, sejalan dengan meluasnya hubungan kita dengan kelompok-kelompok lainnya.

Ketegangan biasanya terjadi, karena orang merasa identitasnya dihina oleh orang lain. Orang menyamakan dirinya dengan identitas kelompoknya. Ketika kelompoknya dihina, maka ia akan juga merasa terhina. Inilah yang disebut sebagai kemelekatan pada identitas, yang menjadi akar dari banyak konflik di dunia ini.

Namun, identitas tidak hanya terkait dengan kelompok, tetapi dengan setiap label yang kita lekatkan pada diri kita masing-masing. Sejak kita lahir, kita sudah diberi nama. Kita pun menyamakan diri kita dengan nama tersebut. Kita melekatkan diri kita pada nama yang diberikan oleh orang tua kita. Ketika nama itu dihina, kita pun akan merasa terhina.

Ketika kita lahir, kita sudah langsung masuk ke dalam kelompok suku tertentu. Kita tidak bisa memilih. Kemudian, kita menyamakan diri kita dengan kelompok suku kita. Ketika kelompok suku itu dihina, kita pun merasa terhina.

Kelompok suku tertentu biasanya sudah selalu terkait dengan ras tertentu. Ras tentunya memiliki lingkup lebih luas, daripada suku. Namun, sifatnya sama, kita seringkali menyamakan diri kita dengan ras kita. Kita melekat padanya, seringkali tanpa bisa memilih.

Hal yang terjadi terkait dengan soal agama. Kita menyamakan diri kita dengan agama kita. Kita melekat pada agama yang seringkali telah dipilihkan oleh orang tua untuk kita. Kita bahkan seringkali tidak bisa memilih agama kita sendiri.

Nasionalisme adalah kesetiaan pada identitas nasional, yakni negara dan bangsa. Kita menyamakan diri kita dengan bangsa dan negara, tempat kita dilahirkan. Dalam arti ini, kita juga melekatkan diri kita pada tata politik, tempat kita dilahirkan. Ketika negara dan bangsa kita dihina, maka kita pun, sebagai pribadi, juga ikut merasa terhina.

Banyak orang juga melekatkan diri pada aliran pemikiran tertentu. Mereka menyamakan diri mereka dengan aliran berpikir tertentu, misalnya aliran progresif, nasionalis, dan sebagainya. Ketika aliran itu dikritik, maka mereka merasa, bahwa pribadi mereka pun dikritik. Kelekatan pada aliran pemikiran ini juga menciptakan konflik antar manusia.

Di era sekarang ini, banyak orang menyamakan diri mereka dengan pekerjaan mereka. Mereka biasanya adalah para profesional yang telah mendapat pendidikan di satu bidang tertentu, dan kemudian bekerja di bidang itu. Mereka begitu melekat pada profesi mereka. Ketika mereka mengalami masalah dengan pekerjaan mereka, stress dan depresi berat pun seringkali datang melanda.

Ada begitu banyak label identitas yang kita lekatkan pada diri kita. Ketika salah satu label itu bermasalah, kita menderita. Ketika salah satu label itu dihina, kita pun merasa terhina. Konflik antar manusia banyak terjadi, karena orang menyamakan dirinya begitu saja pada label identitasnya. Dengan kata lain, orang melekat pada label identitasnya.

Hakekat Identitas

Namun, apakah label identitas itu sungguh nyata? Ataukah, ia hanya label sementara yang ditempelkan kepada kita sejak kita kecil, tanpa kita punya pilihan untuk mengubahnya? Saya melihat dua karakter dasar dari label identitas, yakni kesementaraan dan kerapuhan. Orang yang melekatkan dirinya pada identitasnya artinya ia melekatkan dirinya pada sesuatu yang sementara dan rapuh.

Identitas itu sementara, karena ia akan berubah. Konsep-konsep identitas, seperti ras, suku, agama, profesi dan aliran pemikiran, adalah ciptaan dari pikiran manusia. Orang bisa menjadi bagian dari suatu ras, suku atau agama, tetapi ia juga bisa melepaskan diri dari semua label tersebut, jika ia mau. Bahkan, karena luasnya pergaulan seseorang, ia bisa begitu saja mengubah seluruh identitasnya.

Identitas juga rapuh. Ia begitu mudah berubah. Ia amat sementara. Berbagai hal bisa mendorong orang mengubah identitasnya, atau bahkan melepasnya sama sekali.

Kemelakatan pada identitas membuat orang jadi gampang merasa terhina. Mereka gampang terprovokasi. Mereka juga gampang dipecah belah, sehingga saling berkonflik satu sama lain. Identitas juga menciptakan perbedaan-perbedaan palsu antar manusia.

Perbedaan ini begitu mudah dijadikan sebagai alasan untuk diskriminasi, konflik maupun kejahatan-kejahatan lainnya. Perbedaan ini menciptakan penderitaan batin, misalnya dalam bentuk kesepian. Padahal, sejatinya, identitas itu ilusi, karena ia amat sementara dan begitu rapuh. Dunia akan jauh lebih baik, jika orang tidak melekatkan diri pada label-label identitas yang diciptakan masyarakat.

Beberapa ahli berpendapat, bahwa akar dari konflik bukanlah perbedaan identitas, tetapi kesalahan di dalam memahami perbedaan identitas. Namun, saya berpendapat, bahwa kesalahpahaman ini tidak perlu terjadi, jika orang sudah sejak awal tidak melekatkan dirinya pada label identitas tertentu. Sejauh manusia masih melihat dirinya di dalam kotak-kotak label identitas, selama itu pula bayang-bayang konflik akan terus menghantui.

Melampaui Identitas

Jika identitas adalah sementara dan rapuh, maka sebaiknya, kita tidak menyamakan diri kita dengan identitas kita. Kita tidak boleh melekat padanya. Kita boleh menggunakannya, guna membantu orang lain. Namun, kita tidak pernah boleh terjebak di dalamnya.

Banyak orang takut untuk melepas identitasnya. Mereka berpegang begitu erat padanya, misalnya pada tradisinya, pada agamanya dan pada aliran pemikirannya. Mereka mengira, jika identitas dilepas, maka mereka akan mengalami kehampaan hidup. Inilah salah satu cara berpikir yang salah yang tersebar di masyarakat kita.

Padahal, jika kita tidak melekat pada identitas kita, kita lalu menjadi manusia merdeka. Kita tidak gampang diprovokasi. Kita pun tidak punya alasan untuk merasa terhina, ketika orang lain menghina salah satu label identitas kita. Kita tidak mudah terdorong untuk berkonflik dengan orang lain, karena alasan yang tidak masuk akal, misalnya penghinaan pada salah satu label identitas kita.

Ketika sadar, bahwa identitas kita adalah ilusi, kita pun otomatis menjaga jarak darinya. Pada titik ini, kita tidak lagi stress atau depresi, jika pekerjaan kita gagal, atau ketika agama, ras, suku, negara dan profesi kita dihina orang lain. Kita akan lebih tenang menyingkapi segala tantangan yang ada. Segala tantangan hidup pun lalu bisa dilampaui dengan ketenangan batin.

Mau sampai kapan kita jadi manusia sensitif, yang begitu cepat marah, ketika salah satu label identitas ilusif kita dihina orang lain? Mau sampai kapan kita stress, depresi dan menderita, ketika salah satu label identitas kita mengalami kegagalan, misalnya gagal dalam pekerjaan dan gagal dalam ujian? Mau sampai kapan kita diombang ambingkan oleh kesementaraan dan kerapuhan label identitas kita? Mau sampai kapan…?

Advertisements
Posted in @Pak Reza, @Sophy119, My Post

Refleksi Kematian oleh Pak Reza

      Beliau adalah seorang pengajar di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya. Bidang penelitian Filsafat Politik, Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Timur. Penulis lepas di berbagai media. Kini sedang melakukan penelitian Filsafat Politik di Munchen, Jerman. Itulah pak Reza A. A Wattimena atau nama lengkapnya adalah Reza Alexander Antonius Wattimena.

      Saya mengenal beliau pada saat saya sedang mencari sebuah blog aktif yang khusus membahas filsafat yang berbahasa indonesia, dan sampailah saya pada blog yang mempunyai alamat yang bagus yaitu http://www.rumahfilsafat.com. Nama yang menyiratkan bahwasannya didalamnya bernaung tulisan – tulisan yang berbau filsafat yang dihimpun dalam sebuah rumah. Setelah saya berkunjung dalam blog saya mulai tertarik dengan blog itu karena dalam blog itu sesuai dengan apa yang saya cari selama ini, yaitu tulisan yang memuat refleksi seorang tentang suatu tema yang diangkat dan di kaji secara filosofi. Singkatnya saya dan beliau berkenalan dan berdiskusi bersama dalam forum blog itu, dan sampai saat ini saya masih mengikuti dan menunggu tulisan-tulisan dari beliau.

      Kemarin saya mengadakan mengadakan Jajak Pendapat Opini tentang KEMATIAN, dan dari teman-teman saya, saya telah mendapatkan pendapat yang beragam. Dan sekarang tak lengkap rasanya jika saya tak memasukkan Pak Reza yang sudah saya anggap sebagai salah satu Guru Filsafat saya dalam Jajak Pendapat Opini tentang Kematian, meskipun saya belajar filsafat hanya dengan membaca tulisan beliau saja, tetapi tidak mengurangi rasa hormat saya kepada beliau dan menjadikan beliau sebagai salah satu Guru untuk menambah wawasan saya tentang Filsafat. Dan ini adalah refleksi beliau tentang Kematian :

Kematian dan Kesalahpahaman

Masih teringat jelas di kepala saya, ketika saya diberikan penjelasan, bahwa Bobo, anjing kesayangan saya , meninggal. Saya masih kecil, dan belum sungguh paham, apa artinya, jika sesuatu itu meninggal. Apakah dia menghilang? Begitu pertanyaan saya. Mbak Inah, pembatu di keluarga kami yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, hanya berkata, “Bobo sudah pergi ke surga, Sinyo.” Surga? Tempat apa itu. Yang saya tahu, bobo kini hidup di taman depan rumah kami bersama dengan pohon dan rumput yang tumbuh disitu.

      Setelah itu, beragam peristiwa terkait dengan kematian mulai menjadi pertanyaan buat saya. Diawali dengan kematian kakek dari tetangga saya. Kami mengenalnya sebagai “Engkong baik hati” yang suka memberikan kue dan permen untuk kami, anak-anak kecil yang suka berlarian didepan rumahnya. Yang paling puncak dan memukul saya adalah kematian ayah saya yang begitu mendadak pada 2014 lalu.

Antara ketakutan dan harapan

      Dihadapkan pada pertanyaan tentang kematian, banyak orang dikepung oleh ketakutan. Mereka membayangkan peristiwa perpisahan dengan apa yang mereka anggap berharga dalam hidup. Ada yang membayangkan neraka yang penuh dengan api panas, dan ada yang membayangkan surga yang penuh dengan buah manis. Kecemasan dan ketakutan terselip dibalik dua bayangan itu.

      Orang lalu terpaku untuk hidup sehat, guna memperlambat kematian. Mereka berolahraga dengan giat, serta terobsesi dengan segala macam program kesehatan, mulai dari diet ala Dedi Corbuzier sampai dengan membeli peralatan fitness pribadi untuk dirumah. Dibalik segala usaha yang sekilas tampak mulia itu, sesungguhnya ada ketakutan yang tak pernah bisa dilepas.

      Kita juga sedih dan takut, ketika mendengar berita tentang kematian. Kita merasa sedih, ketika membaca berita tentang kematian, akibat perang yang tak henti-hentinya di Timur Tengah. Kita merasa sedih, ketika mendengar, teman dekat atau saudara kita meninggal. Kematian mengundang beragam emosi yang sering kali sulit dikendalikan.

      Ada juga yang melihat kematian sebagai harapan. Bagi mereka, hidup adalah penderitaan. Hidup dipenuhi dengan tantangan dan ketidakadilan. Maka kematian lalu berguna menjadi jalan keluar, guna mendapatkan keadaan yang lebih baik. Namun, dibalik ketakutan dan harapan, apa sesungguhnya kematian itu,? Apakah ia ada? apakah ia hanya sekedar konsep atau bayangan kita? Mengapa ia dipenuhi begitu banyak misteri yang mengundang kecemasan sekaligus harapan?

Perubahan dan Kesalingterkaitan

      Jika kita bilang, bahwa sesuatu itu mati, kita secara tidak langsung menyatakan, bahwa sesuatu itu berakhir. Ada titik yang mengakhiri keberadaannya. Ada keterputusan antara “ada”, dan menjadi yang “tiada”. Namun, apakah sesuatu itu pernah sungguh berakhir?

      Bobo, anjing saya, kini menyatu dengan pohon, rumput serta buah di taman depan kami yang kecil. Abu jenazah dari “Engkong yang baik hati” kini tersebar di lautan di dekat Pantai Ancol. Abu ayah saya kini menyatu bersama ikan dan beragam mahluk hidup lainnya di laut Jawa.

      Mereka tidak berakhir. Mereka bergerak lanjut. Mereka berubah. Mereka memperkaya kehidupan. Mereka tidak terputus. Mereka tidak “mati”.

      Salah satu hukum utama di dalam fisika modern adalah hukum kekekalan energi. Isinya menegaskan, bahwa energi tidak bisa musnah. Ia hanya bisa berubah. Mereka yang “mati” tidaklah berakhir, melainkan berubah, dan memperkaya kehidupan semesta.

      Didalam Filsafat Timur, keberadaan (existence) selalu terkait dengan perubahan (impermanence) dan kesalingterikatan (interdependence). Artinya, keberadaan kita tidaklah pernah tetap. Ia selalu berubah sejalan dengan perubahan segala hal yang ada di alam semesta. Kita juga tidak pernah sendirian, melainkan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari segala yang ada di alam semesta ini.

Kesalahpahaman

      Belajar dari fisika modern dan Filsafat Timur, kita bisa bilang, bahwa kematian itu tidak ada. ketika orang “mati”, tubuh dan energinya bergerak terus memperkaya kehidupan semesta yang selalu menjadi bagian dari dirinya. Kita tidak pernah berakhir. Tidak ada titik dan kata putus di dalam keberadaan kita.

      Kematian, dengan demikian, adalah kesalahpahaman. Kematian adalah konsep yang lahir dari kesalahan berfikir. Sejatinya, senyatanya, kita tidak pernah mati, dan kita tidak pernah lahir. Kita selalu ada di alam semesta ini dengan segala bentuk yang kita gunakan, dan selalu dalam hubungan dengan segala hal yang ada.

      Bobo, anjing saya tercinta, kini menjadi buah yang siap dimakan, ketika musimnya tiba. Ayah saya kini menjadi bagian dari lingkungan laut yang juga tak bisa dipisahkan dari kehidupan lainnya. Semuanya saling terhubung dan tak terpisahkan. Kita adalah mereka.

      Namun senyatanya, tidak ada kita. Tidak ada mereka. Semua hanyalah konsep. Senyatanya, kita semua satu dan sama. Tak ada mati. Tak ada hidup. Tak ada gerak. Tak ada perubahan. Tak ada keterpisahan. Tak ada perpisahan, mungkin sebaiknya, kita menari…