Posted in My Post

KESADARAN YANG HILANG

Lihatlah kenyataan ini, setiap manusia yang tak bisa lepas dari 3 kutub nilai, akan menuai sebuah paradoksal atas semua tindakannya sendiri.

Ia dibuat kehilangan kesadaran hidupnya.

Ini berlaku untuk semua manusia apapun latar belakang ideologi, kepercayaan, keyakinan, filsafat, maupun agamanya.

Hanya demi memudahkan kita untuk berfikir, penilaian ini timbul dari pembelahan realitas yang kita lakukan.

Semua lalu kita ketegorikan ke dalam 3 kutub nilai itu sendiri.

Penilaian baik akan berlawanan dengan yang bernilai buruk.

Penilaian benar akan berlawanan dengan yang bernilai salah.

Penilaian indah juga akan berlawanan dengan yang bernilai jelek.

Mereka terlalu sibuk untuk berkutat dalam masalah – masalah penilaian atas tindakan – tindakan orang lain.

Hingga hilanglah kesadaran mereka dalam melakukan tindakan penilaian itu sendiri.

Mereka sudah terlalu dalam berada dalam kemabukkan hidup yang seperti ini.

Bahkan mereka menganggap ini adalah tindakan alami dari diri mereka sendiri.

Aku bisa tegaskan, bahwa ini bukanlah kealamian tindakan dari manusia itu sendiri.

Ini adalah kemabukkan diri yang tak kau sadari.

Kesadaran mu sudah benar-benar sirna dalam dirimu untuk menjalani kehidupan mu.

Bahkan, kau pun lupa kapan terakhir kali kau merasakan dengan sadar udara yang masuk dalam hidung mu dan kemudian keluar menjadi nafas mu.

Kau pun tak menyadari bahwa setiap saat kelopak mata mu itu selalu berkedip untuk mata mu sendiri.

Banyak hal yang telah kau lewatkan dalam keadaan mabuk ini, dalam kehilangan kesadaran hidup mu yang mungkin kau tak menyadari bahwa kau saat ini sedang hidup.

Sungguh malang manusia – manusia yang sakit ini.

Ia telah dibuat mabuk dengan pikirannya sendiri, ia telah di buat candu oleh stimulus yang merangsang indra nya dan kemudian mengkontruksi cara berfikir sesat ini.

Inilah dasar di bawah dasar, postulat di bawah postulat, aksioma di bawah aksioma, azas di bawah azas yang selama ini tak disadari yang membuat hilangnya kesadaran manusia.

Tidaklah mudah untuk lepas dari candu ini, begitupun juga tidaklah mudah untuk sadar dari kemabukan ini.

Dibutuhkan tekat yang kuat untuk keluar dari kubangan kotor ini juga dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk keluar dari jurang yang dalam ini.

Selangkah demi selangkah, tahap demi tahap, latihan demi latihan harus dilewati. 

Kesadaran bukanlah pemberian dari Dewa maupun Tuhan atau Kuasa lain di luar kuasa diri, tetapi adalah hasil sebuah latihan meditasi kesadaran itu sendiri.

Mulailah dari merasakan udara yang yang masuk lewat hidung mu, rasakanlah ia terus hingga mencapai ke dalam dadamu, sejenak ia akan kembali ke luar lagi, itu adalah satu kali latihan.

Ulanglah kembali latihan ini, terus, terus, dan sampai kau menyadari bahwa kau sedang melakukan tindakan bernafas.

Hingga pada saat kau menyadari semua tindakan – tindakan yang ada di domain kuasa diri mu sendiri, itulah puncak dari kesadaran yang akan menuntun hidupmu selanjutnya.

Jangan batasi tindakanmu hanya dalam lingkaran paradoksal penilaian 3 kutup.

Batasi saja tindakan mu hanya dengan ke tak terbatasan tindakan itu sendiri, cukup sadari setiap tindakan mu.

Itu sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan kesadaran ke dalam hidupmu.

Jangan menjalani kehidupan tanpa kesadaran, itu adalah pesan ku.

Jangan kau tanya apa alasannya sebelum kau menyadari pertanyaan mu itu.

Arief Sofyan

Jakarta ( 31 Agustus 2017, 20.04 WIB )

Advertisements
Posted in My Post

MENJALANI KEHIDUPAN

MENJALANI KEHIDUPAN


Hidup ini hanya sekejap, sebelum kita melanjutkan perjalanan ke fase selanjutnya.

Entah fase penyatuan dengan semesta, pertanggungjawaban laku yang pernah kita perbuat, reinkarnasi hidup kembali, atau hanya mati tanpa fase lanjutan.

Masalah itu adalah domain di luar kuasa kita, tak perlulah kita mencurahkan kesadaran kepada sesuatu yang bukan berada di domain kuasa kita, biarlah ia berjalan dengan sendirinya.

Lebihlah bijak jika kita berfokus untuk selalu sadar dengan laku dan tindakan kita yang memang ada di domain kuasa kita sendiri.

Lakukan apapun sebagaimana sepatutnya kita lakukan.

Ketika lapar makanlah, ketika haus minumlah, ketika senang tertawalah, dan ketika sedih menangislah.

Lakukanlah semua hal yang patut untuk di lakukan hanya karena kesadaran untuk melakukan hal itu sendiri, buanglah segala motif tindakan mu agar kau terbebas dari lingkaran determinisme tanpa batas yang membuatmu bak boneka yang tak berdaya akan segala tindakanmu sendiri.

Tapi, kau pun memiliki sebuah kebebasan untuk memilih menjalani kehidupan seperti apa yang akan kau jalani.

Aku juga tidak ingin membatasi kebebasanmu, yang akan membuatmu tak sadar untuk menjalani hidup.

Kau secara bebas bisa bersikap secara sadar atas tulisan ku ini, yang aku harapkan hanya kau melakukannya secara sadar dalam bersikap.

Semua yang hidup pasti akan mati. Begitulah kiranya sebuah nasihat yang bijak yang berlaku di segala zaman.

Itu akan menjadi stimulus setidaknya bagi kesadaran hidup kita dalam menjalani kehidupan ini.

Kepercayaan apapun yang kau percayai, keyakinan apapun yang kau yakini, asas moral apapun yang kau pakai, tidaklah penting dan tidak sepatutnya untuk di adu dalam arena nilai 3 kutub, apa itu benar salah, apa itu baik buruk, apa itu indah jelek.

Karena di dunia ini tidak ada yang bisa melampaui pikirannya sendiri. Tidak ada yang bisa melampaui kesadarannya sendiri. Tidak ada yang bisa lepas dari subjektifitas kedirian yang bersifat mutlak ini.

Semua pastilah bersifat relatif, relatif subjektif. Kita hanya bisa mengusahakan sebuah ketendensiusan kepada sebuah keobjektifan untuk universalitas pandangan.

Pertanyaan kritis yang timbul kemudian adalah, mengapa kita harus mengusahakan keobjektifan? Apakah ke subjektifan itu bukan sisi lain dari ke objektifan? Mengapa kita memilih satu sisi dan menolak sisi lain?

Sekali lagi, pikiran kita lah yang memerankan bagian pemisahan ini. Pikiran kita memang bersifat dualis, itu adalah cara pikiran kita bekerja, memisahkan dan membedakan yang sejatinya satu.

Terkadang kita harus lepas dari candu pikiran kita sendiri dan melampaui pikiran kita sendiri.

Ini bukan hal yang mudah di lakukan, hanya dengan sebuah latihan lah ia bisa di tempuh.

Menjalani kehidupan dengan kesadaran total, saat demi saat, melakukan yang sepatutnya di lakukan hingga waktu dan kematian akan memisahkan kesadaran dan rasa kita dari jasad yang bisa membusuk ini.

Selamat menjalani kehidupan untuk menuju kematian.

Arief Sofyan (Jakarta, 27 Agustus 2017)