Posted in @Sophy119, My Post, Puisi, Sajak ku

Merelakan Mu

Oleh : Arief Sofyan

Apa sudah tidak ada lagi secercah harapan?
Yang bisa kau berikan kepada ku duhai kekasih pujaan!
Walau aku ingin sekali bersamamu duhai kasih
Keinginan itu yang sekarang membuatku semakin perih

Sebuah keputusan besar sudah kau ambil
Yang kini tinggallah aku sendiri menggigil
Ditengah kesepian yang menemani diri
Tidak ada kehangatan yang dapat ku rasa kini

Meninggalkanku adalah jalan yang kau pilih
Bersamanya menghabiskan masa yang akan datang
Tidak kah kau sedikit mendengar suara lirih
Di dalam jiwaku yang malang

Walau aku sangat mencintaimu
Mungkin sudah saatnya aku merelakanmu
Untuk bahagia bersama dengan dirinya
Tanpa ada aku diantara kalian berdua

Bukan untuk meninggalkanmu
Bukan pula untuk menghapus cintaku
Apalagi untuk hapus kenangan di antara kita
Tapi untuk memastikan, bahwa aku menghargai dia

Dia, bahu sandaranmu saat kau dalam kelelahan
Dia, penghapus air matamu saat kau bersedih
Dia, pelingdungmu saat kau perlukan
Dia, sang nahkoda bahtera rumah tangga mu

Kini,
Kerelaan ku lah yang membuatku tetap kuat
Cinta tulus ku lah yang membuatku tetap tegar
Menyerahkan semuanya kepada sang Kuasa

Kututup catatan cinta ku untuk mu
Ku simpan rapi dalam memoriku
Aku harus tetap melanjutkan hidupku
Karena aku telah merelakanmu

Bandar Lampung (27 Maret 2017)

Posted in @Sophy119, Sajak ku

Sebuah TulisanĀ 

Oleh : Arief Sofyan 



Semacam gejolak yang timbul dari sebuah rangsangan

Rangsangan luar realita atau dalam perenungan 

Dari gejolak itu lahirlah sebuah ekspresi 

Sebagai apresiasi dari lukisan yang tak terlukiskan


Lukisan itu pun bersimponi dengan tari

Meninggalkan tanda jejak yang abadi

Dalam polosnya bidang putih nan bersih

Tersirat sebuah upaya yang letih nan jerih 


Jejak itu terawetkan tanpa formalin

Sebuah keajaiban kecil nan akbar yang tak dibikin – bikin

Bak sebuah keniscayaan yang masih bisa mengganggu pikiran 

Walau kita terlampau sering melakukan 


Pernahkah kau mendengar suara yang tak berbunyi? 

Yang terdengar begitu kencang di telinga kita! 

Suara tanpa bunyi itu adalah kata

Yang terhimpun dalam tulisan ini. 


Ini adalah tentang sebuah tulisan 

Yang lahir dari sebuah curahan pikiran

Atau kadang ungkapan perasaan 

Dari seorang yang merasakan kegelisahan 


Kegelisahan datang dari dua pintu

Rangsangan realita atau sebuah perenungan 

Dan aku baru menemukan pintu yang yang ketiga

Yaitu saat dua pintu itu tertutup, tanpa bisa terbuka


Kegelisahan dalam ke tak gelisahan 

Itu adalah pintu ketiga dalam kegelisahan 

Pernah kah kau mengalami hal ini? 

Sungguh ini benar-benar aku alami


Tulisan ini lah yang menjadi saksi 

Bahwa aku telah lama berdiri 

Di depan pintu yang baru aku temukan

Dan kini,  coba ku lukiskan kepada kalian


Tulisan ini bukanlah sebuah kegelisahan biasa

Tapi adalah kegelisahan yang luar biasa 

Seperti yang coba aku katakan 

Kegelisahan dalam ke tak gelisahan


Ntah bagaimana lagi aku bisa mengatakannya 

Dengan suara ku yang tanpa kata

Juga dengan kata ku yang tanpa suara


Tulisan inilah yang akan menyampaikan 

Sebuah niatan yang sukar dikerjakan 

Dengan, 

Bersuara tanpa kata

Berkata tanpa suara 


Bandar Lampung, 21 Februari 2017